Amnesia Sejarah di Balik Pemangkasan Anggaran Perpusnas RI
ILUSTRASI Amnesia Sejarah di Balik Pemangkasan Anggaran Perpusnas RI.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Pertanyaan di atas tidak lahir dari ruang hampa. Di alam demokrasi yang masih transaksional, ada korelasi erat antara tingkat literasi masyarakat dan perilaku memilih. Rakyat yang tidak literat adalah sasaran empuk manipulasi.
Ketika kemampuan berpikir kritis masyarakat rendah akibat akses pengetahuan yang dibatasi, mereka akan kesulitan untuk membedakan antara janji politik yang rasional dan bualan populis.
Maka, wajar jika muncul kecurigaan bahwa pemangkasan anggaran itu adalah agenda terselubung untuk menjaga agar rakyat tetap berada dalam kubangan ketidaktahuan. Rakyat yang miskin literasi akan lebih mudah dibeli suaranya dalam pesta demokrasi lima tahunan.
Cukup dengan seratus sampai dua ratus ribu rupiah atau paket sembako menjelang pencoblosan, hak suara mereka beralih. Menjaga rakyat tetap bodoh adalah strategi paling murah untuk memenangkan pemilu.
Amnesia Sejarah Eksekutif dan Legislatif
Pihak eksekutif yang menyusun anggaran maupun legislatif yang mengetok palu tampak sedang mengidap amnesia sejarah yang akut. Mereka seolah lupa pada fondasi dasar berdirinya republik ini.
Panggung politik hari ini kering dari nilai-nilai intelektualitas karena para pemimpinnya telah memunggungi warisan spiritual dan kultural para pendiri bangsa (founding fathers).
Mari kita tengok ke belakang. Indonesia merdeka karena digerakkan oleh pikiran-pikiran besar para pribadi luhur yang menggandrungi pengetahuan. Mereka adalah sosok-sosok yang ”gila baca”.
Bung Karno menaklukkan dunia dengan pidatonya yang kaya akan referensi filsafat dan sejarah global, hasil dari ribuan buku yang ia lahap, bahkan saat di sel pengasingan.
Bung Hatta adalah menara ilmu yang bahkan menjadikan maskawin pernikahannya berupa sebuah buku yang ia tulis sendiri. Ia pernah berkata, ”aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
Sutan Sjahrir, Tan Malaka, hingga K.H. Agus Salim adalah deretan pemikir tangguh yang menguasai berbagai bahasa asing dan teori-teori dunia karena kedekatan mereka dengan literasi.
Para pendiri bangsa memiliki keseimbangan yang luar biasa antara aspek intelektual, spiritual, dan estetika. Mereka merumuskan dasar negara bukan dengan otot atau pragmatisme materi, melainkan dengan ketajaman pena dan keluasan cakrawala berpikir.
Ketika hari ini pemerintah memilih memotong anggaran Perpusnas, mereka sebenarnya sedang mengkhianati cita-cita Bung Karno, Bung Hatta, dan para pahlawan lainnya.
Kebijakan itu membuktikan bahwa penguasa saat ini lebih mementingkan proyek fisik yang tampak megah secara visual ketimbang investasi kemanusiaan yang bersifat jangka panjang.
Jika negara ini benar-benar ingin literasi tumbuh, kembalikan hak-hak rakyat atas pengetahuan. Jangan biarkan Perpusnas kelaparan anggaran di tengah kemewahan proyek-proyek politik lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: