Folklor Maulid Nabi Muhammad yang Hidup di Kamal, Bangkalan: Ancak, Bukol, dan Berbagi

Folklor Maulid Nabi Muhammad yang Hidup di Kamal, Bangkalan: Ancak, Bukol, dan Berbagi

ANAK-ANAK antusias merayakan Maulid Nabi di Kamal, Bangkalan, pada Senin, 24 Agustus 2026. Mereka berburu hadiah-hadiah yang digantungkan di halaman langgar.--Jiphie Gilia untuk Harian Disway

Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dalam tradisi yang melibatkan seluruh masyarakat Kamal, Bangkalan. Langgar-Langgar menjadi pusat keceriaan. Seharian itu, anak-anak berpesta.

SEJAK memasuki Rabiulawal, aktivitas masyarakat Kamal meningkat. Pengajian demi pengajian rutin digelar. Penduduk setempat menyebutnya cocoghan. cocoghan menjadi penanda Rabiulawal sekaligus aba-aba untuk mulai mempersiapkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Puncaknya terjadi pada Senin, 24 Agustus 2026. Hari itu, kampung lebih tenang. Jalanan lebih sepi. Anak-anak yang biasanya sibuk bermain di tanah lapang dan berlarian di jalan juga tidak terlihat.

Rupanya, keramaian berganti di rumah-rumah warga. Para ibu memasak, para bapak mempersiapkan ubo rampe perayaan. Anak-anak juga sibuk membantu orang tua mereka. 

BACA JUGA:Maulid Nabi, Khofifah Ajak Warga Perkuat Akhlak dan Kerukunan di Era Digital

BACA JUGA: Ini Dia Rekomendasi 5 Lagu Religi yang Wajib Diputar untuk Semarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW Hari Ini!

Pasar di pagi hari juga jauh lebih ramai. Semuanya berburu buah-buahan. Khususnya, buah bidara yang dalam bahasa masyarakat setempat disebut bukol. Itu adalah buah wajib yang harus ada dalam ancak atau wadah makanan/persembahan.


BUKOL menjadi item wajib yang harus ada dalam persembahan buah. Dalam foto, bukol berwarna hijau terselip di antara anggur dan jeruk.--Jiphie Gilia untuk Harian Disway

Menjelang asar, langgar-langgar dibersihkan. Para remaja dan orang dewasa bergotong-royong menggelar tikar, menggantungkan hadiah-hadiah yang dibungkus plastik, dan menata ancak yang dibawah masing-masing keluarga. Perayaan Maulid Nabi di Kamal memang berpusat di langgar-langgar.

Di langgar kami, perayaan disepakati selepas asar. Maka, setelah menunaikan salat asar, warga berkumpul. Mereka duduk melingkar. Seorang kiai duduk di depan dan mendaraskan doa. Semua khusyuk mengungkapkan rasa syukur dan memanjatkan permohonan.

Sejenak kemudian, anak-anak berebut buah di dalam ancak. Sebenarnya, bukan hanya anak-anak yang berebut. Namun, mereka selalu menjadi yang paling bersemangat. Mereka bergerombol, berpindah dari satu langgar ke langgar lain, mengikuti perayaan Maulid dari sore hingga malam.

BACA JUGA:Intip Hangatnya Tradisi Mooncake yang Terinspirasi Legenda Chang'e di Mid Autumn Festival

BACA JUGA:Usung Musik Folklore ke Balai Pemuda Surabaya, Kedutaan Hungaria Harapkan Jalinan Kerja Sama Budaya

Seharian itu, Maulid Nabi diperingati oleh semua langgar. Namun, waktunya berbeda-beda, sesuai kesepakatan tuan rumah dan masyarakat di sekitar langgar. Karena itulah, anak-anak bisa berebut buah di banyak langgar. 

Maulid Nabi di Kamal memang tidak berhenti sebagai peringatan keagamaan. Ubo rampe, cerita, kebiasaan, aturan, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya terus dipelihara. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: