Folklor Maulid Nabi Muhammad yang Hidup di Kamal, Bangkalan: Ancak, Bukol, dan Berbagi

Folklor Maulid Nabi Muhammad yang Hidup di Kamal, Bangkalan: Ancak, Bukol, dan Berbagi

ANAK-ANAK antusias merayakan Maulid Nabi di Kamal, Bangkalan, pada Senin, 24 Agustus 2026. Mereka berburu hadiah-hadiah yang digantungkan di halaman langgar.--Jiphie Gilia untuk Harian Disway


DOA BERSAMA mengawali peringatan Maulid Nabi di Kamal, Bangkalan, pada Senin, 24 Agustus 2026. Acara di tiap langgar dimulai selepas asar hingga isya.--Jiphie Gilia untuk Harian Disway

James Danandjaja menyebut folklor sebagai budaya kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun. Baik dalam bentuk lisan maupun melalui contoh dan perbuatan. Karena itu, folklor bisa berupa upacara, kebiasaan, kepercayaan, dan berbagai praktik yang hidup di tengah masyarakat.

Di Kamal, saat Maulid Nabi, kehadiran ancak adalah folklornya. Dulu, ancak dibuat dari daun pisang berbentuk persegi. Bagian tengahnya diperkuat dengan potongan bambu agar mampu menahan buah.

BACA JUGA:Nusantara Code Memperkuat Pentingnya Pangan, Lingkungan, dan Budaya (1); Sebuah Kode di Balik Tiga Folklor

BACA JUGA:Mengenal Budaya Chaoshan, Warisan Khas Guangdong yang Kaya Kuliner, Seni, dan Tradisi

Seiring berjalannya waktu, ancak dari daun pisang mulai ditinggalkan. Warga memilih wadah yang lebih praktis. Bentuknya berubah, tetapi sebutannya tetap ancak

Perubahan ini menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu bertahan dalam bentuk material yang sama. Ada bagian yang berubah mengikuti kebutuhan zaman, ada pula bagian yang tetap dipertahankan. Dalam hal ini, wadahnya boleh berupa nampan atau ember.

Ancak juga menjadi penanda keterlibatan keluarga dalam perayaan. Setiap kepala rumah tangga membawa ancak berisi buah-buahan untuk diserahkan kepada tuan rumah atau keluarga yang bertugas menjadi penyelenggara tradisi Maulid Nabi hari itu. 

Buah menjadi bagian dari sajian bersama. Mengapa buah? Sebab, buah adalah hasil dari sebuah proses. Ia tumbuh, dirawat, kemudian dipanen.

BACA JUGA:Uniknya Festival Longtaitou, Tradisi Tiongkok Sambut Musim Semi dengan Simbol Naga Penguasa Hujan

BACA JUGA:Tradisi dan Makna Festival Perahu Naga, Dirayakan Lebih dari 2.000 Tahun


NASI KEBULIH dalam kemasan dibagikan kepada semua warga yang datang dalam peringatan Maulid Nabi. Kadang, nasi kebulih juga hadir dalam bentuk tumpeng.--Jiphie Gilia untuk Harian Disway

Dalam tradisi Maulid, buah dapat dipahami sebagai hasil bumi yang disedekahkan. Karena itu, buah yang dipilih biasanya merupakan buah yang baik dan manis. Hasil terbaik diberikan sebagai bagian dari sedekah.

Di antara banyak jenis buah, bukol tak boleh ketinggalan. Ukurannya kecil, tapi maknanya besar. Konon, bukol berkaitan dengan pemakluman Nabi Muhammad SAW kepada umat yang tidak mampu memberikan buah yang lebih baik. Karena niatnya tulus untuk persembahan, maka bukol yang dibawa umat itu pun diterima.

Cerita itu menjadi folklor yang terus dipelihara masyarakat, sehingga bukol kemudian menjadi buah wajib dalam ancak. Tujuannya adalah sebagai pengingat bahwa dalam persembahan, niat dan ketulusanlah yang memainkan peranan. Bukan rasa manis atau kesempurnaan buahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: