Gerak Adalah Obat bagi Lansia Pengidap Penyakit Kronis
ILUSTRASI Gerak Adalah Obat bagi Lansia Pengidap Penyakit Kronis.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Kondisi tersebut makin kompleks pada wanita menopause akibat penurunan hormon estrogen yang mempercepat atrofi otot dan mempersulit regulasi berat badan.
Berat badan berlebih disertai resistansi insulin memunculkan inflamasi kronis serta membuat ginjal lebih banyak menyerap kembali asam urat, garam, dan air. Seluruh rangkaian itu menjadi sebuah lingkaran setan, seperti mencari dulu mana antara telur dan ayam.
BACA JUGA:Lansia Bekerja, Strategi Organisasi atau Peduli?
BACA JUGA:Saat Boneka AI Menjadi Teman Sepi Lansia Korea Selatan, Karena Manusia Jarang Bilang I Love You
Kultur olahraga makin sering dikumandangkan sebagai bentuk gaya hidup modern. Namun, jenis dan intensitas latihan bagi lansia memerlukan penyesuaian khusus karena sering kali diikuti kerusakan sendi rawan (osteoartritis), terutama pada lutut.
Olahraga intensitas sedang dengan fokus kekuatan tubuh bagian bawah, keseimbangan, dan pernapasan menjadi pilihan paling aman dan efektif. Intensitas dilakukan setidaknya dua kali dalam seminggu dan dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali per minggu sesuai kemampuan individu.
Metaanalisis pada lansia menunjukkan bahwa dua sesi latihan resistansi per pekan merupakan frekuensi yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot, sedangkan intervensi 2–3 kali per pekan juga terbukti meningkatkan massa otot total dan massa otot ekstremitas. Individu tanpa problem sendi bisa melakukan aktivitas peregangan, joging, ataupun tenis.
Pada individu yang mengalami nyeri sendi, bentuk aktivitas bersepeda, berenang, dan keseimbangan seperti taici dapat menjadi pilihan. Di luar fungsi fisiologis, rutinitas olahraga bersama menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar aktivitas fisik: kohesi sosial.
Kesepian dan isolasi sosial merupakan faktor tersembunyi yang memperparah penyakit kronis pada kalangan lanjut usia (lansia).
Dalam pelaksanaan Prolanis, variasi program dapat ditambahkan pengolahan bahan pangan dengan indeks glikemik rendah seperti umbi-umbian dan pangan rendah purin untuk mendorong perubahan diet sehingga target metabolis pada penyakit kronis dapat terjaga stabil.
Tidak lupa bahan bakar dan bahan pembangun otot juga diperlukan. Protein, terutama sumber kaya asam amino esensial, bersama vitamin D dan kalsium berperan penting dalam mempertahankan sistem muskuloskeletal.
Vitamin D berperan dalam keseimbangan kalsium-fosfat, mineralisasi tulang, serta fungsi neuromuskular melalui reseptor vitamin D pada jaringan otot. Meskipun Indonesia dibanjiri sinar matahari, defisiensi vitamin D bervariasi 35–70 persen di berbagai kelompok usia.
Bukti juga menunjukkan potensi peran magnesium dan selenium dalam fungsi saraf-otot. Magnesium dibutuhkan dalam berbagai reaksi enzimatik dan metabolisme kalsium-vitamin D. Ketiganya juga menarik jika dikaitkan dengan pembuluh darah.
Vitamin D dan magnesium diketahui berhubungan dengan fungsi endotel dan regulasi vaskular. Metaanalisis suplementasi magnesium menunjukkan kemungkinan perbaikan fungsi endotel, terutama pada individu yang lebih tua, tidak sehat, atau kelebihan berat badan, khususnya setelah intervensi lebih dari enam bulan.
Kelompok senam Prolanis mengubah upaya pengelolaan kesehatan menjadikan perjuangan kesehatan pribadi yang menjadi rutinitas sosial bersama yang membangkitkan semangat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: