NU, Islam, dan Diplomasi Dunia

NU, Islam, dan Diplomasi Dunia

Ilustrasi NU/Net--

Setahun kemudian, Muktamar Internasional Fikih Peradaban memperluas cakrawala tersebut. Menjelang pelaksanaannya pada Februari 2023, sebanyak 79 ulama dari 32 negara dikonfirmasi menghadiri forum di Surabaya.

Dua pengalaman tersebut menunjukkan bahwa NU telah mempunyai jaringan untuk berbicara dengan dunia. Tantangannya kini terletak pada bagaimana jaringan itu menghasilkan pengaruh yang lebih terukur.

Joseph S. Nye (2004) menjelaskan bahwa soft power bekerja melalui daya tarik dan persuasi, dengan kredibilitas sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun pengaruh. Menurut Nye, kredibilitas, kemampuan melakukan refleksi diri, dan keterlibatan masyarakat sipil menjadi unsur penting dalam menghasilkan soft power.

BACA JUGA:Tongkat NU

BACA JUGA:NU Baru

Kerangka itu menarik untuk membaca posisi NU. NU tidak memiliki instrumen kekuasaan negara. Kekuatan NU berada pada kepercayaan sosial, otoritas keagamaan, jaringan pengetahuan, tradisi pesantren, dan pengalaman mengelola kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk. 

Modal tersebut dapat menjadi sumber soft power Indonesia sekaligus kekuatan diplomasi masyarakat sipil NU.

Peter Mandaville (2013) melihat aktor keagamaan sebagai pemimpin masyarakat, pembangun modal sosial, dan figur yang dipercaya komunitas. Karena itu, keterlibatan dengan pemimpin dan institusi keagamaan layak menjadi bagian rutin dari diplomasi.

Perspektif itu relevan bagi NU. Diplomasi NU tidak perlu meniru diplomasi negara. Jalurnya dapat bergerak melalui ulama, pesantren, akademisi, diaspora, lembaga sosial, organisasi kemanusiaan, dan jejaring lintas agama. 

Kekuatan tersebut memungkinkan NU berbicara dari ruang masyarakat, tempat kepercayaan sering kali dibangun lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Persoalannya, internasionalisasi tidak cukup diukur dari jumlah forum, kunjungan, atau pertemuan dengan tokoh dunia. 

Ukuran yang lebih penting adalah gagasan apa yang lahir, jaringan apa yang bertahan, persoalan apa yang dapat dibantu penyelesaiannya, dan seberapa jauh gagasan tersebut masuk percakapan global.

Di sinilah NU membutuhkan lompatan dari global presence menuju global agency.

Gagasan Mendunia

Abad kedua NU membutuhkan agenda global yang lebih terstruktur. Diplomasi NU dapat diarahkan pada tiga ranah yang saling berhubungan: perdamaian, pengetahuan, dan kemanusiaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: