Gus Kikin, NU, dan Jarak Kekuasaan

Gus Kikin, NU, dan Jarak Kekuasaan

ILUSTRASI Gus Kikin, NU, dan Jarak Kekuasaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PADA suatu Sabtu sore di penghujung Desember 2009, di kompleks Pesantren Tebuireng, ribuan orang berkumpul mengenang 16 tahun wafatnya seorang kiai yang pernah jadi presiden dan tak pernah benar-benar berhenti jadi kiai. Di tengah haul itu, pengasuh pesantren tuan rumah berdiri dan mengatakan sesuatu yang agak menohok bagi jamaahnya sendiri.

”Kalau saya pikir,” katanya, ”dulu itu organisasi keagamaan, ini taqarrub ilallah, mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.” Ia berhenti sejenak, seperti menimbang perlu-tidaknya kalimat berikutnya diucapkan di depan begitu banyak orang. Lalu, ia meneruskan juga, ”nah, ini kita sekarang, ini rasanya itu kita lebih mendekatkan diri kepada yang sedang berkuasa.”

Yang bicara adalah KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), cicit KH Hasyim Asy’ari, pengasuh Tebuireng sejak menggantikan pamannya, KH Salahuddin Wahid, pada 2020. Kalimatnya sederhana, tapi menyimpan sebilah pisau kecil di dalamnya. 

Ada dua ”yang berkuasa” dalam bahasa Indonesia, dan bedanya cuma satu imbuhan: yang maha kuasa dan yang sedang berkuasa. Yang pertama tak fana, tak bisa dilobi, tak butuh suara di muktamar. 

BACA JUGA:Gus Kikin, Ruh Qanun Asasi, dan Penguatan Anak Ranting NU

BACA JUGA: Pidato Perdana Gus Kikin Sebagai Ketum PBNU, Singgung Rapat Sampai Pagi Tapi Muktamirin Betah

Yang kedua datang, lalu pergi –dan justru karena datang lalu pergi itulah, oleh watak organisasi mana pun yang punya jamaah, harta, dan pengaruh, ia jadi lebih mendesak untuk didekati. 

Media, esoknya, mengutip versi lain dari kalimat itu, yang beredar dari mulut ke mulut jamaah yang hadir: ”Nahdlatul Ulama kini seolah-olah lebih dekat kepada penguasa daripada kepada Yang Maha Kuasa.”

Itu Desember 2025. Delapan bulan kemudian, di gedung MPR RI, pada sebuah Halaqah Kebangsaan, Gus Kikin mengucapkan versi lain dari peringatan yang sama, kali ini lebih ringkas, lebih seperti dalil: ”NU sejak awal dibangun oleh nilai, bukan oleh kekuasaan.” 

Dan, tiga pekan setelah itu, di sebuah pesantren di Jombang, ratusan kiai dari seluruh Indonesia memutuskan bahwa orang yang paling layak mengurus Nahdlatul Ulama lima tahun ke depan adalah ia sendiri –orang yang selama ini justru paling keras mengingatkan bahwa NU sedang salah arah karena terlalu dekat dengan kekuasaan.

BACA JUGA:Terpilih Jadi Ketum PBNU, Gus Kikin Akan Bangun NU Sesuai dengan Qanun Asasi

BACA JUGA:Profil Gus Kikin, Kiai Entrepreneur dari Tebuireng yang Kini Memimpin PBNU

Ironi semacam itu jarang ditulis sejarah dengan tangan yang halus.

***

Nahdlatul Ulama lahir pada 1926 sebagai jam’iyah diniyyah, perkumpulan keagamaan, bukan partai. Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari, pendirinya, dikenal berkali-kali menolak didekati kekuasaan, baik dari penjajah Belanda maupun dari pemerintah pendudukan Jepang yang berulang kali membujuknya duduk lebih dekat ke pusat kekuasaan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: