Botok Pati

Botok Pati

ILUSTRASI Botok Pati.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Botok adalah lauk tradisional sederhana, perpaduan tempe, lamtoro, parutan kelapa, dan teri yang dikukus dalam daun pisang. Di sisi lain, dunia modern mengenal botox (botulinum toxin). Yakni, terapi estetika populer bagi kaum hawa yang ingin menolak tua dan mempertahankan kecantikan superfisial. 

Kontras itu menjadi metafora yang sempurna. Di saat politik nasional bersolek menggunakan ”botox” pencitraan agar tampak mulus dan baik-baik saja, ”Botok” dari Pati hadir dengan kekuatan dan kesederhanaan yang membumi, menjawab kerinduan masyarakat akan tokoh yang bisa menjadi juru bicara mereka.

Botok, nama aslinya Supriyono, bukan siapa-siapa, tanpa latar belakang elite, tapi tiba-tiba melesat menjadi figur yang didukung banyak orang. 

BACA JUGA:Polisi Buka Suara Soal Pemblokiran Rekening Supriyono Botok: Bukan Diblokir, tapi Ditunda Transaksinya

BACA JUGA:Saham BMRI Melemah ke Rp4.200, Polemik Rekening Mas Botok Jadi Sorotan

Itulah jawaban dari kehampaan sistem. Matinya oposisi rakyat. Partai politik sekarat dan parlemen mati suri. Ketika keresahan umum yang menumpuk tidak lagi menemukan salurannya di lembaga formal, hukum alam politik berlaku, rakyat akan menciptakan jalurnya sendiri.

Botok hadir menyuarakan apa yang tertahan di tenggorokan jutaan rakyat Indonesia. Tuntutannya sangat sederhana, tetapi mematikan, yaitu sahkan UU Perampasan Aset Koruptor dan hukuman mati bagi koruptor. 

Di tengah keputusasaan publik terhadap pemberantasan korupsi yang kian melarut, tuntutan Botok bukan sekadar gagasan hukum, melainkan juga pelepas rasa frustrasi atas keadilan yang selama ini tersumbat. 

Langkah kakinya ke Jakarta memicu gelombang dukungan dari seluruh penjuru Indonesia karena publik melihat cermin dari rasa frustrasi mereka sendiri dalam diri Botok.

BACA JUGA:Polisi: Botok Pati Tidak Ditangkap karena Demo di Gedung DPR

BACA JUGA:Botok Pati Akhirnya Masuk Ruang Sidang DPR, Setelah Sepekan Desak RUU Perampasan Aset Disahkan

Pati, sebuah daerah di Jawa Tengah, menyimpan narasi sejarah yang pekat dengan keberanian. 

Secara etimologis atau mitologis lokal, kata ”pati” kerap diidentikkan dengan akar kata yang dekat dengan ”mati” –sebuah lambang keteguhan tanpa rasa takut, garis batas di mana keberanian berhadapan langsung dengan taruhan nyawa. 

Di tanah itulah sejarah kepahlawanan lokal tumbuh. Namun, belakangan ini Pati tidak hanya menjadi catatan sejarah masa lalu, tetapi juga episentrum dari sebuah fenomena politik-sosial yang menggetarkan panggung nasional, lahirnya aksi penuntut keadilan yang dimotori oleh Botok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: