Gus Kikin, Ruh Qanun Asasi, dan Penguatan Anak Ranting NU

Gus Kikin, Ruh Qanun Asasi, dan Penguatan Anak Ranting NU

ILUSTRASI Gus Kikin, Ruh Qanun Asasi, dan Penguatan Anak Ranting NU.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Jadi, demokrasi di forum tetap berjalan secara ketat, kompetisi berjalan, ada juga falsafah ”one cabang, one vote”, tetapi mekanisme itu disaring melalui mekanisme khas Nahdlatul Ulama.

Saya yakin bahwa Gus Kikin memiliki empat idealisme yang menjadi modal besar untuk memimpin NU ke depan.

Pertama, kedekatan dengan dunia pesantren dan garis keturunan pendiri NU. Tebuireng adalah salah satu pesantren terdekat dengan NU dan beliau masuk zuriah pendiri NU.

BACA JUGA:Terpilih Jadi Ketum PBNU, Gus Kikin Akan Bangun NU Sesuai dengan Qanun Asasi

BACA JUGA:Qanun Asasi, Khazanah Keulamaan yang Menjadi Fondasi Kebangsaan

Sebagai cicit KH Hasyim Asy’ari dan pengasuh Pesantren Tebuireng, Gus Kikin dinilai memiliki legitimasi historis yang kuat.

Beliau memiliki kedekatan paling absah dengan pesantren, bukan hanya secara biologis sebagai zuriah, melainkan juga melalui warisan kepemimpinan dan nilai perjuangan yang melekat di Tebuireng.

Di tengah modernisasi organisasi, banyak warga NU yang berharap agar organisasi kembali memperkuat basis pesantren sebagai sumber nilai dan arah gerakan.

Kedua adalah idealitas profesional. Rekam jejak pengalaman Gus Kikin di dunia bisnis, keuangan, perbankan, hingga industri menjadi keunggulan tersendiri yang jarang dimiliki tokoh pesantren.

Beliau memiliki pengalaman sebagai profesional dan pelaku bisnis. Bahkan, meninggalkan posisinya di dunia usaha untuk kembali mengasuh Tebuireng.

BACA JUGA:Gus Kikin: NU Harus Berpegang pada Qanun Asasi di Tengah Perubahan Zaman

BACA JUGA:Kedudukan Qanun Asasi Lebih Tinggi dari AD/ART NU, Gus Kikin Minta Pengurus Kembali ke Khittah Pendiri

Menurut saya, itu merupakan modal penting untuk mengelola organisasi besar seperti NU.

Ketiga, kemampuan membangun jejaring sosial-politik. Gus Kikin memiliki hubungan yang baik dengan berbagai kalangan, mulai tokoh-tokoh NU, partai politik, lembaga negara, hingga institusi pemerintahan. Tinggal aparatur dan team work-nya harus dioptimalkan.

Kondisi itu dianggap penting lantaran saat ini warga NU tidak hanya berada di lingkungan pesantren, tetapi juga tersebar di kampus, birokrasi, parlemen, dan berbagai sektor strategis lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: