Paradoks Rokok Indonesia

Paradoks Rokok Indonesia

ILUSTRASI Paradoks Rokok Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Perkembangan ilmiah menunjukkan, hingga saat ini tidak ditemukan efek baik dari merokok. Yang ada hanyalah efek buruknya. Tar yang meleleh ke saluran napas akan memacu tumbuhnya sel-sel yang berbakat menjadi kanker di paru-paru. 

Unsur-unsurnya yang terisap ke saluran darah akan berbuat serupa di organ tubuh lainnya. Nikotinnya akan menimbulkan gangguan lambung, mengeraskan dan menyumbat pembuluh darah, serta meracuni otak sehingga menimbulkan kecanduan.

Proses kecanduan yang ditimbulkan nikotin, meskipun lebih ringan, serupa benar dengan proses kecanduan yang ditimbulkan narkotika. 

Seperti juga orang yang kecanduan narkotika, bisa ditebak pasti perokok akan sulit melepaskan diri darinya dan akan mengalami ketidaknyamanan fisik akibat ketagihan jika tidak merokok. 

Sedemikian rupa sehingga masih ada dokter perokok yang secara sadar mengetahui bahayanya rokok, tetapi sulit untuk menghentikannya.

Karbon monoksida yang terisap bersama asap akan mengikat hemoglobin darah sehingga kemampuannya mengikat oksigen akan berkurang. Jika proses itu berlangsung sejak remaja, kemampuan otaknya pun akan berkurang pula. 

Tar dan abu yang terisap akan menimbulkan reaksi radang saluran napas. Diperkirakan, ada 14 unsur dalam rokok yang berbahaya bagi kesehatan, termasuk zat yang mempercepat pengeroposan tulang (osteoporosis) dan penyebab kelainan pada bayi dalam kandungan.

Rokok tidak hanya berefek terhadap jantung dan kanker, tapi juga dapat merusak generasi yang akan dilahirkan dan yang sedang dalam pertumbuhan. 

Oleh karena itu, tidak benar jika problem akibat rokok hanyalah problem negara maju, dalam kaitannya dengan penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

Secara ringkas, dari segi kesehatan, rokok memang lebih banyak berisi mudarat daripada manfaat. Dengan demikian, pembelanjaan uang untuk membeli rokok lebih bersifat pemborosan, dan perokok adalah orang yang merugikan diri sendiri serta keluarganya. 

Sebab, rokok ternyata tidak hanya membahayakan diri perokok itu sendiri. Ia juga membahayakan orang-orang lain yang ada di dekatnya. Asap rokok yang terisap oleh bukan perokok mengakibatkan ia menjadi perokok pasif. 

Istri atau anak seorang perokok berat akan secara terus-menerus menjadi perokok pasif. Dan, mungkin sejak anak itu masih bayi. 

Dengan kata lain, seorang ayah yang perokok sebenarnya telah meracuni anak dan istrinya dengan asap rokok untuk jangka waktu yang lama. Mereka akan makin lemah dan bangsa ini makin mudah dipaksa tunduk pada bangsa lain. 

Sementara itu, pemilik pabrik rokok akan makin kaya saja dari uang orang miskin yang kecanduan rokok. Para elite politik hanya memikirkan kepentingan jangka pendeknya demi dukungan dalam kampanye. Soal kesejahteraan rakyat dan ketahanan nasional? Entah tanggung jawab siapa.

Bahwa orang miskin, anak-anak dan remaja menjadi perokok, serta akan membelanjakan uangnya yang sedikit untuk rokok ketimbang makanan atau pendidikan, tidak menjadi pertimbangan. Bahwa kalau mereka sakit kemudian akan membebani negara sekaligus menurunkan produktivitas, itu juga tidak menjadi kepedulian pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: