Pendidikan Tinggi Indonesia Memerlukan Kontrak Baru
ILUSTRASI Pendidikan Tinggi Indonesia Memerlukan Kontrak Baru.-Gemini-
ADA sarjana yang akhirnya berjualan sempol. Ada yang menjaga toko. Ada yang mengirim lamaran ke sana kemari, tetapi belum juga memperoleh pekerjaan yang diharapkan. Cerita seperti itu belakangan makin sering muncul. Atas berita tersebut, di masyarakat lalu muncul pertanyaan: Kalau akhirnya seperti itu, untuk apa kuliah?
Saya justru ingin mengatakan: ijazah S-1 tidak salah. Para penyelenggara pendidikan tinggi-lah yang mungkin perlu berbenah diri.
Selama bertahun-tahun mereka membangun imajinasi yang hampir linier dalam pikiran anak-anak muda dan keluarganya. Yaitu, sekolah–kuliah–sarjana–bekerja–hidup lebih baik.
Kuliah akhirnya dipersepsikan sebagai semacam tiket menuju pekerjaan. Ijazah menjadi tanda bahwa seseorang telah siap memasuki kelas sosial yang lebih baik.
Dahulu, ketika jumlah sarjana masih sedikit, logika itu mungkin berlaku. Sekarang situasinya berubah. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah. Teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan mulai mengambil sebagian pekerjaan. Struktur industri berubah.
BACA JUGA:Pendidikan Tinggi: Antara Misi Publik dan Logika Pasar
BACA JUGA:Relevansi dan Meritokrasi Pendidikan Tinggi
Sementara itu, pertumbuhan pekerjaan berkualitas tidak selalu mampu mengejar pertumbuhan jumlah lulusan pendidikan tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen. Di balik angka makro itu terdapat persoalan yang lebih dalam: bukan hanya apakah seseorang bekerja atau menganggur, melainkan apakah pendidikan dan kemampuan yang dimilikinya benar-benar digunakan dalam pekerjaannya.
Bank Dunia bahkan mencatat kecenderungan makin banyak lulusan universitas di Indonesia yang masuk ke pekerjaan berketerampilan lebih rendah.
Porsi pekerjaan berketerampilan tinggi masih relatif kecil. Di sisi lain, pekerja berpendidikan tinggi juga makin banyak yang masuk ke pekerjaan informal.
BACA JUGA:Menyiapkan Input Pendidikan Tinggi dengan Seleksi Andal dan Berkeadilan
BACA JUGA:Kemiripan Surabaya-Bandung dalam Pendidikan Tinggi dan Peran Strategisnya
Jadi, problem kita ternyata bukan sekedar penganggur sarjana. Ada problem yang lebih serius. Yaitu, ”underutilization of talent”. Kita mendidik manusia cukup lama, tetapi ekonomi kita belum selalu mampu memberikan ruang agar kapasitas itu digunakan secara optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: