Setelah Jombang, Ujian Sesungguhnya NU

Setelah Jombang, Ujian Sesungguhnya NU

ILUSTRASI Setelah Jombang, Ujian Sesungguhnya NU.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Mereka harus menyatukan kelompok-kelompok yang selama muktamar berbeda pilihan. Mereka harus menerjemahkan keputusan muktamar ke dalam program konkret. Mereka harus membangun kaderisasi yang memberikan ruang lebih luas kepada anak muda. Mereka harus memperkuat ekonomi warga. 

Mereka harus membangun tata kelola yang transparan. Mereka harus menjaga hubungan konstruktif dengan pemerintah tanpa kehilangan independensi. Dan, yang tidak kalah penting, mereka harus mengembalikan NU kepada persoalan paling dasar, yaitu kemaslahatan manusia.

Ahmad Baso pernah menempatkan gagasan NU Studies sebagai upaya menjadikan NU bukan sekadar objek yang dibicarakan orang lain, tetapi subjek yang mampu membaca dan menafsirkan dirinya sendiri. 

Dan, menurut hemat penulis, gagasan itu relevan untuk abad kedua. NU tidak boleh hanya menjadi objek dalam percakapan tentang politik, agama, dan kekuasaan. NU harus menjadi subjek yang menentukan masa depannya sendiri.

Karena itu, setelah Jombang, pertanyaan paling penting bukan siapa yang menang dalam muktamar. Pertanyaan yang lebih penting adalah ”apakah NU mampu mengubah kemenangan kontestasi menjadi kemenangan peradaban?”

Jika mampu, muktamar ke-35 akan dikenang bukan karena pergantian kepemimpinan, melainkan karena menjadi titik balik ketika NU benar-benar mulai bekerja untuk abad keduanya. Jika gagal, sejarah mungkin hanya akan mencatatnya sebagai satu lagi pergantian pengurus dalam siklus lima tahunan. 

Jombang telah memberikan mandat. Kini waktunya membuktikan khidmah. Dan, ukuran akhirnya sederhana dan itu bukan seberapa besar NU berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan seberapa besar masyarakat merasakan manfaat dari keberadaan NU. Semoga! (*)

*) Bustomi adalah mahasiswa Program Doktoral FISIP Universitas Airlangga dan pengurus LTN PWNU Jatim.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: