Penyuluhan Sarkopenia pada Dewasa: Mengenali dan Mencegah Penurunan Massa Otot sebelum Lansia
PENGUKURAN kekuatan genggaman atau hand grip strenght (HGS) pada peserta kegiatan penyuluhan tentang sarkopenia dengan menggunakan alat hand dynamometer.-Dok. Pribadi.-
SARKOPENIA menjadi topik yang akhir-akhir ini sering dibahas dalam berbagai seminar, khususnya fisioterapi. Hal itu menunjukkan bahwa fisioterapi berperan untuk memberikan intervensi pada SARKOPENIA. Jadi, apa itu SARKOPENIA?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Herdianty dan tim dari Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Surakarta melakukan kegiatan penyuluhan tentang sarkopenia pada orang dewasa di Gedongan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Agustus 2026.
Kegiatan itu bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang sarkopenia dan cara mencegah sarkopenia sejak usia dini. Penyuluhan dilakukan dengan ceramah, diskusi, dan dilanjutkan dengan pengukuran HGS. Selain itu, dibagikan selebaran kepada seluruh peserta yang hadir.
Apa Itu Sarkopenia?
Sarkopenia adalah kondisi tubuh yang mengalami penurunan massa, kekuatan, dan fungsi otot, khususnya pada lansia. Dengan kata lain, massa otot mengalami penyusutan. Ruangan di sekitar otot yang menyusut itu dapat terisi oleh lemak. Oleh karena itu, penurunan massa otot akan diikuti peningkatan massa lemak. Hal itulah yang menyebabkan penurunan kekuatan otot pada sarkopenia.
Kondisi sarkopenia itu disebabkan multifaktor. Salah satunya faktor fisiologis, yaitu terjadi penurunan fungsi tubuh seiring bertambahnya usia seperti pada sistem musculoskeletal. Namun, juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti kurang melakukan aktivitas fisik, kurang asupan protein, rendahnya kadar vitamin D, maupun penyakit kronis.
Meski sarkopenia dapat terjadi saat usia lansia, kejadiannya dapat diprediksi saat masa dewasa. Diketahui bahwa penurunan massa otot mulai terjadi pada usia 30-an dan makin mengalami penurunan secara progresif saat usia lebih dari 65 tahun.
Kesulitan membawa barang berat, bangkit dari kursi, naik turun tangga, berjalan jauh maupun melakukan aktivitas berat bisa menjadi tanda seseorang berpotensi mengalami sarkopenia.
Seseorang yang mengalami sarkopenia dapat menimbulkan berbagai permasalahan lain yang dapat memengaruhi kualitas hidup seperti gangguan keseimbangan, meningkatnya risiko jatuh dan patah tulang, risiko penyakit jantung dan respirasi, gangguan kognitif, maupun gangguan mobilitas lain yang dapat meningkatkan risiko dirawat di rumah sakit.
Mendeteksi Potensi Sarkopenia
Mendeteksi sarkopenia dapat dilakukan dengan cara sederhana, yaitu mengukur kekuatan genggaman atau hand grip strenght (HGS) dengan menggunakan alat hand dynamometer. Pengukuran itu dilakukan pada posisi duduk tegak, lengan atas dan bawah pada posisi 90 derajat, alat hand dynamometer digenggam sekuat-kuatnya, ditahan tiga detik, kemudian dilepas.
Nilai kekuatan genggaman akan muncul di layar. Pengukuran dapat dilakukan tiga kali dan diambil nilai terbaik. Jika nilai kurang dari batas normal, dikatakan kekuatan genggaman lemah dan berpotensi mengalami sarkopenia.
Menurut Asian Working Group on Sarcopenia (AWGS), nilai ambang batas HGS pada laki-laki dewasa adalah 28 kg, sedangkan pada perempuan 18 kg. Namun, penentuan HGS itu juga dilihat berdasarkan rentang usia.
Setelah diberi penyuluhan, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengukur HGS. Pengukuran sederhana itu menjadi pengalaman yang menarik untuk peserta penyuluhan, sekaligus dapat memberikan wawasan bahwa kekuatan otot merupakan hal penting dari kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: