Menjelajah Lautan Teduh (3): Hari-Hari Menjadi Pelaut
PENYERAHAN TUMPENG dari Komandan KRI WSH-991 Kolonel Laut (P) Benedictus Hery Murwanto kepada Ludfi, mahasiswa Prodi Teknik Arsitektur Universita 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.-Dok. DOAN WIDHIANDONO-
Jumat, 11 September 2026, sekitar pukul 15.30 WIB, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 mulai bergerak. Pelan-pelan kapal meninggalkan dermaga Pangkalan Komando Armada II TNI AL Ujung. Perjalanan panjang pun dimulai…
KAPAL bantu rumah sakit itu mula-mula menghadap ke timur. Haluannya mengarah ke kawasan Jembatan Suramadu. Maklum, sore itu, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 memang sedang bersandar di Dermaga Semampir Baru di areal basis TNI-AL tersebut.
Momen pemberangkatan itu cukup membuat kuduk merinding. Peluit besar berbunyi. Keras sekali. Disusul rangkaian peluit-peluit kecil dan aba-aba dari perangkat komunikasi yang terdengar di seluruh areal kapal. Begitu, kapal terpisah dari daratan, seruan motto TNI-AL diteriakkan oleh seluruh awak kapal: Jalesveva Jayamahe…!
Setelah itu, kapal bergerak dan ’’balik kanan’’. Mengarah ke barat. Ke arah Jakarta.
Di situlah kami sadar: kami benar-benar sudah berada di kapal.
BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh (2): Misi Diplomasi Dimulai dari Kampus
BACA JUGA:Ribuan Mahasiswa Baru Untag Surabaya Ambil Atribut PKKMB 2026, Antusias Sambut Kehidupan Kampus
Tidak ada lagi kemungkinan pulang hanya untuk mengambil charger yang tertinggal atau barang yang lupa dimasukkan ke koper. Kapal adalah tempat kami bekerja sekaligus rumah sementara selama perjalanan. Rumah yang bergerak.
Sebelum kapal berangkat, ada slametan kecil. Tumpeng dipotong. Komandan KRI, Kolonel Laut (P) Benedictus Hery Murwanto, memimpin acara sederhana itu. Tidak banyak seremoni, tetapi pesannya jelas: perjalanan akan panjang. Kami harus menjaga diri, menjaga kekompakan, dan mengikuti aturan kapal.
Sepiring nasi tumpeng diserahkan untuk Ludfi, mahasiswa Teknik Arsitektur, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Misi secara resmi memang belum dimulai. Peluncuran nasional baru dilakukan di Jakarta pada Senin, 14 September. Tetapi kehidupan sebagai pelaut sudah dimulai sore itu.
Dua hari pertama kapal juga belum penuh. Ada awak KRI, personel satuan, kami berlima dari Untag Surabaya, serta tiga dosen dari Poltekkes Surabaya. Suasananya masih cukup longgar. Kami mulai mengenali lorong, tangga, dek, ruang makan, ruang kerja, dan tempat berkumpul.

SUASANA GAYENG ketika delegasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya makan bersama Komandan KRI WSH-991 Kolonel Laut (P) Benedictus Hery Murwanto, Sabtu 12 September 2026.-Dok. YUNIAR DWI PUTRI-
Kapal ini memang rumah sakit terapung. Karena itu, kesan pertama ketika menyusuri lorong-lorongnya memang seperti berada di sebuah rumah sakit. Bersih, rapi, dan fungsional. Hanya saja rumah sakit ini bergerak, bergoyang, dan membawa kami menuju Jakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: