Serangan Senyap Autoimun: Tanpa Gejala, Pandai Berkamuflase (1)

Serangan Senyap Autoimun: Tanpa Gejala, Pandai Berkamuflase (1)

TERPAPAR sinar matahari secara langsung dalam durasi waktu yang lama bisa memperparah autoimun. Perempuan lebih rentan terserang autoimun.-Boy Slamet-Harian Disway

Autoimun disebut juga penyakit Seribu Wajah. Itu karena penyakit tersebut tidak selalu menyerang dengan gejala. Keluhan pasien pun bisa beragam. Dokter sering kewalahan merumuskan diagnosis.

KELUHAN itu datang dan pergi. Ketika frekuensinya kerap, Tanti Damayanti segera berobat ke dokter. Dia berkonsultasi karena tidak tahu penyakit apa yang menjangkiti tubuhnya. Dibikin keluar masuk ruang pemeriksaan sejak 2014, kondisinya baru benar-benar diketahui pada 2016.

"Setelah bertemu dokter yang tepat, tegaklah diagnosis saya, yakni lupus dan scleroderma. Saya akhirnya mendapat pengobatan tepat sasaran dan permasalahan di jantung saya berangsur sembuh," ucap Tanti saat dihubungi Harian Disway pada 13 September 2026.

Awalnya, founder sekaligus ketua Yayasan Autoimun Tulus Jakarta itu merasakan ada yang tidak beres dengan jantungnya. "Sudah menjalani berbagai pemeriksaan, tapi tidak ditemukan masalah. Hasil laboratorium juga baik," katanya. 

BACA JUGA:Cara Mengurangi Gejala Autoimun Akibat Stres

BACA JUGA:Peringati hari Lupus Sedunia, Kenali 9 Penyakit Autoimun yang Sering Menyerang

Namun, karena detak jantungnya lemah, Tanti melakukan berbagai treatment lantaran yakin jantungnya bermasalah. Bahkan, dia sempat disarankan untuk pasang alat pacu jantung. 

Sebelum itu terjadi, dia berkonsultasi dengan dokter spesialis endokrin. Hasil medical check-up menunjukkan bahwa kadar gula darahnya prediabetes. Saat itu, dirinya mulai merasakan bahwa kulit dan rambutnya rontok. Selain itu, juga muncul ruam-ruam merah khas autoimun (butterfly rash). 

Tanti juga sering merasakan nyeri ringan pada persendian, seperti jari-jari tangan dan kaki. Badannya pun juga kerap pegal-pegal. Istirahat dan tidur tidak membantu keluhan-keluhan itu mereda. Semua itu dia sampaikan kepada dokter spesialis endokrin yang memeriksanya. 


TANTI DAMAYANTI (kiri) dan Ganis Trisnanisasi baru tahu bahwa mereka mengidap autoimun setelah berkali-kali pemeriksaan.--Tangkapan Layar YouTube Yayasan Autoimun Tulus Jakarta

"Dokter ini cukup peka. Dia justru melihat kondisi fisik saya lalu menyarankan untuk beragam tes lainnya, salah satunya adalah tes antinuclear antibodies atau ANA," paparnya. Hasil tes Tanti positif. Sejak saat itulah dia menjalani perawatan autoimun. 

BACA JUGA:Mengenal Autoimun, Penyakit yang Menyerang Isyana Sarasvati

BACA JUGA:Selena Gomez Tak Ingin Orang Takut Lupus

Pengalaman itu membuat Tanti sadar bahwa autoimun tidak mudah dideteksi. Ganis Trisnanisasi, co-founder Yayasan Autoimun Tulus Jakarta malah lebih parah lagi. "Dia baru ketahuan autoimun setelah operasi 18 kali. Ya, memang begitulah," terangnya lantas tertawa.

Terpisah, dr. Lita Diah Rahmawati, Sp.PD, K-R. menyatakan bahwa autoimun memang tidak bisa langsung dikenali dalam sekali pemeriksaan. Karena itu, dia mengimbau publik untuk tidak sembarangan melakukan self-diagnose. Semua pemeriksaan, analisis, dan diagnosis hanya boleh dilakukan oleh dokter. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: