Menjelajah Lautan teduh (6): Hanggar Heli Jadi Sanggar Seni

Menjelajah Lautan teduh (6): Hanggar Heli Jadi Sanggar Seni

TARI CENDRAWASIH yang akan menjadi bagian dari penampilan budaya Satgas Terpadu Port Visist 2026. Tarian ini dilakukan oleh Alice Aritonang, mahasiswa Universitas Pertahanan (kiri), Yuniar Putri (tengah), dan dilatih oleh Ferditania Estirahayu, mahasiswa -Doan Widhiandono-

Ya, menjadi bagian dari misi diplomasi tidak berarti harus siap menjalani perundingan demi perundingan. Sebab, aksi kemanusiaan dan kebudayaan pun bisa menjadi wujud relasi antarnegara. Itulah yang harus dilakukan seluruh peserta Satgas Terpadu Port Visit 2026. Termasuk harus mampu berakting dan menari…

KRI Wahidin Sudirohusodo-991 meninggalkan dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin pagi, 14 September 2026. Pemberangkatannya cukup megah. Sakral. Mengesankan.

Kapal bantu rumah sakit milik TNI-AL tersebut perlahan-lahan melepaskan diri dari daratan sekitar pukul 10.00. Prosesinya ditandai dengan pelepasan tali tambat oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan sejumlah pejabat.

Iringan marching band dari TNI-AL lamat-lamat terdengar dari kapal yang terus menjauh. Lambaian tangan juga perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Kami yang berada di dek teratas terus melambai sampai jajaran pejabat tinggi itu tak terlihat lagi.

BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh (5): Menjadi Duta dan Jembatan Antarbangsa

BACA JUGA:Ribuan Mahasiswa Baru Untag Surabaya Ambil Atribut PKKMB 2026, Antusias Sambut Kehidupan Kampus

Perlahan kami keluar dari jalur keluar-masuk pelabuhan yang ditandai dengan dua pemancar berbentuk ondel-ondel tersebut. Warnanya merah dan hijau. Ketika kami masuk pelabuhan, yang hijau berada di sebelah kanan haluan.

Begitu lepas dari pemancar itu, kapal pandu perlahan-lahan menjauh. KRI Wahidin Sudirohusodo-991 pun bergerak dengan mesin sendiri. Kapal buatan PT PAL itu pun terus mengarah ke timur, menuju lautan teduh…

Perjalanan panjang menanti. Artinya, berbagai kegiatan pun harus dilakukan di dalam kapal. Sampai tiba di empat negara tujuan: Vanuatu, Fiji, Solomon Islands, dan Papua Nugini.

Sebagai relawan dan anggota satgas, kami sudah menerima brifing. Sejak sebelum berangkat, malah. Bahwa kami nanti akan terbagi menjadi beberapa sub-satgas. Misalnya, budaya, pendidikan, dan bakti sosial.


LATIHAN MEMBACA SKENARIO drama Majapahit Empire. Seluruh delegasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya terlibat dalam pertunjukan tersebut.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-

Nah, budaya ini yang cukup menantang. Apalagi, kami dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya tidak ada yang murni berlatar belakang seniman. Memang kadang agak nyeni. Tetapi, kami bukan seniman ’’profesional.’’ Dan kami pun harus menyumbangkan kesenian dalam resepsi diplomatik yang bakal digelar di kapal saat tiba di negara-negara tujuan.

Adalah Rizkya Dwijayanti yang kali pertama dihubungi tim Satgas Terpadu untuk mempersiapkan kesenian tersebut. ’’Bingung. Sebab enggak boleh tari. Atau lagu,’’ ucap dosen berumur 33 tahun tersebut.

Ide pun tercetus. ’’Bikin drama,’’ kata perempuan yang sempat menjadi guru TK itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: