Pria Bunuh Pacar di Area Kebun Konawe, Sultra: Bahaya Mental Abusif

Pria Bunuh Pacar di Area Kebun Konawe, Sultra: Bahaya Mental Abusif

ILUSTRASI Pria Bunuh Pacar di Area Kebun Konawe, Sultra: Bahaya Mental Abusif.-Arya/AI-Harian Disway-

Daeng: ”Di lokasi yang sepi pada malam itu mereka berhubungan badan di area perkebunan. Setelahnya, pelaku mengatakan kepada korban bahwa pelaku tidak akan mau bertemu lagi dengan korban.”

Menanggapi perkataan Jefri, Yati malah ketawa. 

Dilanjut: ”Pelaku menafsirkan ketawa korban itu sebagai penghinaan kepadanya. Kemudian, pelaku mencekik korban sampai tak bergerak lagi. Saat jenazah ditemukan, di mulut jenazah tersumpal kain. Kemudian, pelaku kabur.”

Polisi belum menerapkan pasal untuk pelaku. Namun, polisi punya bukti hukum yang kuat disertai pengakuan pelaku.

Dari kronologi tersebut tampak, pelaku mendominasi korban. Ia mau berhubungan seks dengan korban, tapi ia juga menyatakan tidak mau lagi bertemu korban. Dua hal yang bertolak belakang. Pelaku merasa menguasai korban.

Mengapa sebagian orang yang mengalami penolakan, frustrasi, atau luka harga diri mengubahnya menjadi kekerasan terhadap pasangan? Sementara itu, banyak orang lain yang mengalami hal serupa, tetapi tidak melakukan kekerasan.

Lundy Bancroft dalam bukunya, Why Does He Do That? Inside the Minds of Angry and Controlling Men (Putnam’s Sons, 2002), mengungkap karakter pria yang berpotensi menyakiti atau membunuh pasangannya.

Bancroft, selain penulis, juga konsultan di bidang kekerasan dalam rumah tangga serta perlakuan buruk terhadap anak. Ia berpraktik di Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Ia pernah menjabat co-direktur Emerge, program konseling pertama di AS yang khusus bagi pria pelaku kekerasan.

Karyanya berfokus pada tiga bidang:

Melatih para profesional mengenai praktik melakukan intervensi terhadap pelaku kekerasan pria terhadap perempuan, dengan tujuan mendorong akuntabilitas dan menuntut adanya perubahan.

Melatih para profesional mengenai dinamika dampak emosional dan pemulihan pada anak-anak yang terpapar tindakan kekerasan pria terhadap ibu mereka.

Mendukung pemulihan dan pemberdayaan perempuan korban kekerasan, dengan penekanan pada advokasi hak asasi manusia bagi para ibu dan anak-anak mereka.

Buku itu ditulis Bancroft berdasarkan pengalaman sebagai konselor yang bekerja dengan laki-laki yang melakukan kekerasan terhadap pasangan. 

Menurutnya, tidak setiap laki-laki yang sulit mengendalikan amarah otomatis pelaku kekerasan. Ia membedakan antara kemarahan biasa, konflik hubungan, dan pola berpikir yang membuat seorang laki-laki merasa berhak mengontrol pasangannya.

Kekerasan terhadap pasangan tidak cukup dijelaskan dengan kalimat ”pelaku tidak mampu mengendalikan emosi”. Tidak cukup begitu. Kemarahan memang dapat muncul dalam suatu hubungan, tetapi menurut Bancroft, pada laki-laki yang melakukan kekerasan, terdapat pola berpikir yang lebih mendalam. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: