Pria Bunuh Pacar di Area Kebun Konawe, Sultra: Bahaya Mental Abusif
ILUSTRASI Pria Bunuh Pacar di Area Kebun Konawe, Sultra: Bahaya Mental Abusif.-Arya/AI-Harian Disway-
Yakni, rasa berhak, kebutuhan mengontrol pasangan, merendahkan pasangan, dan keyakinan bahwa pasangan seharusnya memenuhi keinginannya.
Dua laki-laki dapat mengalami penolakan yang sama, tetapi mereka merespons berbeda. Laki-laki pertama mungkin kecewa, sedih, marah, lalu menerima keputusan tersebut.
Laki-laki kedua dapat memandang penolakan sebagai penghinaan, ketidakadilan, atau tindakan pasangan yang ”tidak seharusnya” dilakukan. Dari sanalah konflik dapat berubah menjadi persoalan kontrol.
Bancroft membahas apa yang disebutnya ”abusive mentality”, pola mental yang membuat seseorang memandang dirinya sebagai pihak yang berhak menentukan bagaimana pasangan harus bersikap.
Dalam pola tersebut, pasangan tidak sepenuhnya dipandang sebagai individu yang bebas mengambil keputusan. Tetapi, sebagai seseorang yang seharusnya mengikuti kehendaknya.
Buku itu juga membahas berbagai tipe laki-laki abusif dan bagaimana pola tersebut dapat muncul dalam hubungan.
Salah satu poin pentingnya, jangan menjadikan masa lalu atau keadaan sebagai alasan otomatis bagi kekerasan.
Bancroft membahas mitos bahwa pelaku melakukan kekerasan semata-mata karena pernah mengalami kekerasan ketika kecil, kecanduan alkohol, mengalami tekanan, atau sedang sangat marah.
Faktor-faktor tersebut mungkin berkaitan dengan kekerasan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan mengapa seseorang memilih melakukan kekerasan.
Buku Why Does He Do That? mengurai awal munculnya kekerasan, perilaku laki-laki abusif dalam kehidupan sehari-hari, dan perilaku ketika hubungan berakhir atau mengalami perpisahan.
Pria dengan poor coping (tingkat mekanisme koping yang rendah) dapat menjadi bagian dari pemicu tindak kekerasan.
Namun, yang lebih penting untuk diteliti adalah pola pikir, rasa berhak, kebutuhan mengontrol, cara memandang pasangan, dan respons terhadap penolakan atau kehilangan kontrol.
Di kasus pembunuhan Yati, karakter pelaku yang abusive mentality tampak jelas pada kronologi yang diterangkan polisi. Dengan mental seperti itu, ia merasa berhak mengendalikan wanitanya. Ia merasa wanitanya harus menuruti apa pun kemauannya.
Jadi, penolakan ortu korban sudah pada jalur yang benar. Sayangnya, korban tidak segera menghindari pelaku. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: