Desil vs Dapur

Desil vs Dapur

ILUSTRASI Desil vs Dapur.-AI/Gemini-

BACA JUGA:Data PBI JKN Terbentur Klasifikasi Desil, Dinsos Jatim: Warga Terdampak PHK Jadi Korban

BACA JUGA:Wamenkop: KDKMP Perluas Peluang Kerja bagi Masyarakat Desil 1 hingga 4

Data yang tidak diperbarui dapat menghasilkan kesalahan inklusi maupun eksklusi. Karena itu, Brasil mengembangkan pendekatan active search, yakni pemerintah secara aktif mendatangi dan mendata komunitas untuk menemukan keluarga miskin yang belum terdaftar. 

Pelajarannya jelas: negara tidak boleh hanya menunggu orang miskin membuktikan bahwa dirinya miskin. Negara juga harus aktif mencari mereka. Sebagai instrumen statistik, penetapan desil relatif tepat, tetapi belum tentu cukup sebagai instrumen keadilan sosial. 

Desil diperlukan karena negara dengan sumber daya fiskal terbatas tidak mungkin memberikan seluruh program secara seragam kepada semua orang. Targeting dapat membuat anggaran lebih efektif dengan memprioritaskan kelompok yang paling membutuhkan. 

Kemiskinan bukan sekadar posisi seseorang dalam sebuah tabel statistik. Kemiskinan adalah kemampuan atau ketidakmampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup secara bermartabat. 

Maka, ukuran keberhasilan DTSEN bukan sekadar seberapa rapi negara menyusun desil 1 sampai 10. Ukuran keberhasilannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: apakah orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan akhirnya menerima bantuan?

Sebab, ketika sebuah angka desil mengakibatkan orang miskin kehilangan bantuan, sementara negara merasa pekerjaannya telah selesai karena datanya ”sudah benar”, yang bermasalah bukan hanya datanya. Yang bermasalah adalah cara kita memahami manusia di balik angka. (*)

 


*) Sukarijanto adalah pemerhati kebijakan publik. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: