Desil vs Dapur
ILUSTRASI Desil vs Dapur.-AI/Gemini-
Keluarga yang secara statistik terlihat ”mampu” dapat jatuh ke dalam kerentanan hanya karena satu kejadian: PHK, sakit, kenaikan harga pangan, bencana, atau kehilangan pencari nafkah. Karena itu, penggunaan desil mempunyai dasar ekonomi yang kuat, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai acuan absolut.
Dalam literatur kebijakan sosial dikenal konsep targeting error, terutama inclusion error dan exclusion error. Inclusion error terjadi ketika kelompok yang sebenarnya tidak layak memperoleh bantuan masuk sebagai penerima. Sebaliknya, exclusion error terjadi ketika orang yang seharusnya menerima justru tidak memperoleh bantuan.
Tidak ada sistem penargetan yang mampu menghapus kedua kesalahan tersebut secara sempurna. Bank Dunia pun secara eksplisit mengakui bahwa tidak ada satu pun metode ”targeting” yang paling tepat untuk mengukur dalam segala situasi di semua negara.
BACA JUGA:Cara Cek Desil DTSEN dengan NIK untuk Mengetahui Status Penerima Bansos
BACA JUGA:Masyarakat Bisa Ajukan Perubahan Desil! BPS Buka Kanal Pembaruan Data DTSEN
Dari pengalaman, eksperimen penargetan di Indonesia menemukan bahwa self-targeting dapat menjangkau rumah tangga yang lebih miskin meskipun ongkos administratifnya lebih tinggi. Artinya, persoalan ketepatan sasaran bukan semata-mata persoalan kecanggihan rumus, melainkan juga desain kelembagaan dan mekanisme verifikasi.
Dalam perspektif demografi, penetapan desil juga harus memperhitungkan struktur rumah tangga. Rumah tangga dengan dua orang dewasa dan satu anak jelas mempunyai struktur beban ekonomi berbeda dengan keluarga yang memiliki lima anak.
Keluarga dengan lansia, penyandang disabilitas, orang tua tunggal (single parent), atau anggota keluarga yang membutuhkan perawatan intensif memiliki dependency ratio yang berbeda pula.
Desil akan jauh lebih kuat apabila menjadi bagian dari sistem dynamic social registry. Artinya, masyarakat tidak hanya diklasifikasikan sekali, tetapi memiliki mekanisme pembaruan ketika kondisi ekonominya berubah.
BACA JUGA:Warga Desil 9-10 Tak Boleh Pakai Pertalite, Bahlil Beberkan Kriterianya Begini!
BACA JUGA:BGN Kaji Penerima MBG Hanya untuk Desil 1-7, Siswa Keluarga Mampu Berpotensi Dicoret
Bank Dunia juga menekankan pentingnya registri sosial yang dinamis, on-demand registration, pembaruan data secara berkelanjutan, dan mekanisme pengaduan yang mudah diakses. Akan tetapi, metode itu membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
India memberikan pelajaran penting. Pengalaman sistem below poverty line (BPL) menunjukkan bahwa mengidentifikasi siapa yang paling membutuhkan bantuan ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar memiliki identitas digital.
Bank Dunia menegaskan bahwa sistem Aadhaar dapat memastikan identitas dan membantu pembayaran, tetapi tidak dengan sendirinya menentukan siapa yang paling membutuhkan bantuan.
Brasil juga menghadapi persoalan serupa melalui Cadastro Único, basis data nasional yang digunakan untuk menargetkan berbagai program sosial, termasuk Bolsa Família. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa kualitas registri merupakan faktor fundamental.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: