Anti-Intelektualisme
ILUSTRASI Anti-Intelektualisme.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Bahkan, dapat terjebak ke dalam isolasi epistemik. Di mana, penguasa akan makin sulit mengetahui kenyataan politik yang sebenarnya. Pula, mengurangi informasi yang dibutuhkan untuk mengetahui apakah pemerintahannya sudah berhasil.
Pada gilirannya, anti-intelektualisme pasti akan mengikis legitimasi penguasa itu sendiri secara eksponensial. Jika hal tersebut dibiarkan, niscaya potensial memicu political collapse saat narasi pencitraan pecah oleh benturan realitas faktual.
Sampai di sini, kiranya patut diduga, anti-intelektualisme penguasa negara-bangsa mungkin memang berpangkal pada kepribadian personal penguasa, yang merasa paling pintar sedunia. Dan, terobsesi mengendalikan secara absolut arah pengetahuan kaum intelektual. Juga, membenci kaum intelektual yang tak sepandangan dengannya.
Namun, mungkin juga anti-intelektualisme penguasa itu berpangkal pada perebutan otoritas epistemik negara. Pada tataran itu, masalah besarnya bukan sekadar kepribadian penguasa. Tapi, masalah struktural negara-bangsa.
Dalam hal ini, close-mindedness dapat menjadi masalah yang tertanam dalam struktur kelembagaan negara. Bukan semata sifat individual.
Berhal ilustrasi di atas, anti-intelektualisme dari penguasa adalah kondisi di mana kekuasaan tak lagi sekadar mengatur negara. Tapi, juga mulai berusaha mengatur siapa yang boleh memproduksi, memvalidasi, dan mendefinisikan pengetahuan terkait negara-bangsa. Nah! (*)
*) Haryadi adalah dosen FISIP, Unair, dan penasihat senior Lab45.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: