Ketika Program MBG Mengajarkan Kita Memahami Teori Dekonstruksi Derrida
Ilustrasi penyiapan MBG di dapur SPPG.-dok: disway-
Ketika ketiga kata tersebut disatukan, maknanya berkembang menjadi lebih luas. Makanan dapat dibicarakan melalui persoalan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, ekonomi, dan masa depan masyarakat.
Kata “gratis” juga tidak berdiri sendiri. Kita memahami “gratis” karena mengenal sesuatu yang disebut “berbayar.”
BACA JUGA:Kembalikan MBG ke Dapur Rakyat
Begitu pula “bergizi” memperoleh makna melalui perbedaannya dengan sesuatu yang dianggap tidak bergizi.
“Penerima” dapat dipahami karena terdapat kemungkinan seseorang yang bukan penerima. Sebuah kata ternyata membutuhkan kata lain untuk membentuk batas maknanya.
Derrida menjelaskan persoalan tersebut melalui gagasan trace atau jejak. Setiap tanda membawa jejak tanda lain.
Ketika kita mengatakan “pusat”, terdapat jejak “pinggiran” di dalamnya. Ketika kita mengatakan “modern”, terdapat jejak “tradisional.”
BACA JUGA:Feibiola Hilang Ingatan 70 Persen setelah Santap MBG, Hasil Laboratorium Temukan 3 Bakteri Ini
BACA JUGA:45 Santri Kembali Dirawat, Pemkab Sidoarjo Evaluasi SPPG MBG
Makna yang tampak hadir ternyata selalu berhubungan dengan sesuatu yang tidak sedang disebut secara langsung.
Gagasan tersebut berhubungan dengan différance. Makna terbentuk melalui perbedaan dan terus mengalami penundaan.
Ketika kita berusaha menjelaskan arti “bergizi”, kita membutuhkan konsep tentang nutrisi, kesehatan, kebutuhan tubuh, usia, standar gizi, dan konteks lainnya.
Penjelasan tersebut kembali membutuhkan istilah lain. Makna tidak berhenti pada satu titik. Tetapi terus bergerak melalui hubungan antartanda.
BACA JUGA:Abu Anak Krakatau Bikin Sekolah PJJ, Penyaluran MBG Ikut Dihentikan Sementara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: