Gadis Wajah Innocent Lakukan Pembunuhan Brutal di Gresik: Mitos Sosok Polos
ILUSTRASI Gadis Wajah Innocent Lakukan Pembunuhan Brutal di Gresik: Mitos Sosok Polos.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ira: ”Pas setelah saya tusuk lehernya, ia langsung bangkit, terus mendorong saya jatuh ke lantai. Terus, ia berada di atas saya, menduduki saya, sambil memukuli saya. Darah dari lehernya terus mengucur, kena wajah saya.”
Dalam posisi tersebut, Ira mengaku, tangannyi mencari pisau yang sebelumnya digunakan dengan meraba-raba di sekitar. Pisau pun terjangkau, lalu digenggam Ira.
Ira: ”Pas saya sudah ketemu pisaunya, terus saya sabetkan agar ia tak mendekat saya lagi. Sabetan saya kena tangan dan punggungnya.”
BACA JUGA:Pembunuhan Dua Gadis Bersaudara di Banyuasin Diungkap: Terkait Restu Ortu
BACA JUGA:Pembunuhan Perempuan Motif Cemburu di Pos Ronda Demak: Kontradiksi Cemburu
Sabetan berkali-kali itu membuat Firdiansyah tak mampu lagi melawan. Pelan-pelan ia tumbang, menimpa tubuh pelaku. Kini tubuh korban menindih tubuh pelaku.
Ira: ”Kalau di foto (milik polisi, Red) itu kan korban posisinya telungkup ya. Jadi, saya itu semula berada di bawahnya. Pas ia sudah tak bergerak, saya keluar dari bawahnya itu. Terus saya mencoba bunuh diri, pada akhirnya paginya saya telepon 110.”
Mengapa Ira membunuh?
”Ia selingkuh, saya cemburu.”
Kemudian, Ira digelandang polisi ke Polsek Menganti untuk disidik. Jenazah korban dibawa ke RSUD Ibnu Sina, Gresik.
Menurut AKP Arif, tersangka menelepon darurat kepolisian 110 sekitar pukul 08.30 WIB, Sabtu, 3 Oktober 2026. Ira melaporkan bahwa dia baru membunuh pacarnyi. Tim polisi tiba di TKP sekitar dua jam setelah laporan tersangka.
Arif: ”Berdasarkan penyelidikan, pelaku setelah membunuh korban sekitar pukul 02.00, terus duduk termenung di dekat jenazah korban, sampai tim polisi tiba di sana.”
Atau, sekitar delapan setengah jam pelaku duduk termangu di dekat jenazah korban. Polisi masih menyelidiki motif pembunuhan meski pelaku sudah mengatakan motifnya cemburu. Namun, detail kecemburuan pelaku belum terungkap.
Paman korban, Suwari, kepada wartawan mengatakan, ”kalau melihat potongan (performance pelaku), dia bukan potongan pembunuh. Wajahnya lembut, tubuhnya kurus kecil. Tapi, dia sudah membunuh keponakan saya.”
Soal performance pembunuh, jangan terkecoh penampilan fisik, kata jurnalis Kanada, Patricia Pearson, dalam bukunyi, When She Was Bad: Violent Women and the Myth of Innocence (Viking, 1997).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: