Mahalnya Harga Kesederhanaan
ILUSTRASI Mahalnya Harga Kesederhanaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Namun, seiring dengan perubahan zaman, dan saat hampir semua orang mampu membeli barang dengan logo terkenal, keistimewaan logo berangsur kehilangan daya eksklusivitasnya. Tak heran, kelas sosial yang lebih mapan menemukan permainan baru.
Tidak perlu logo. Tidak perlu warna mencolok. Tidak perlu tulisan merek sebesar spanduk reklame. Cukup kualitas bahan, potongan yang sempurna, desain yang tidak lekang zaman, dan, yang paling penting, visibilitas pesan kepada khalayak bahwa barang itu mahal dan eksklusif.
Di sinilah quiet luxury menjadi lebih kompleks daripada sekadar tren fesyen. Kemewahan berubah dari sesuatu yang harus ”dilihat” menjadi sesuatu yang harus ”dipahami.
Pesannya sederhana: orang yang benar-benar memiliki sumber daya tidak selalu merasa perlu memamerkan sumber daya tersebut. Namun, jangan buru-buru menganggap quiet luxury sebagai kemenangan kesederhanaan.
Di sinilah kita perlu curiga. Sebab, memakai pakaian tanpa logo tidak berarti keluar dari logika status. Bisa jadi justru statusnya telah naik kelas.
Pierre Bourdieu, sosiolog dan ekonom Prancis, melalui konsep la distinction menjelaskan bahwa kelas sosial tidak hanya dibedakan oleh jumlah uang dan asset yang dimiliki, tetapi juga oleh selera dan cultural capital.
Mereka yang memiliki referensi luas tentang fesyen mampu membaca dan membedakan sesuatu yang tampak biasa dari sesuatu yang sesungguhnya eksklusif.
Dahulu orang menunjukkan kekayaan dengan logo. Sekarang orang-orang tertentu justru menunjukkan kekayaan dengan kemampuan ”tidak membutuhkan logo”.
Itu semacam kode rahasia kelas sosial. Kalau logo dapat dibeli, selera tidak selalu dapat dibeli. Kalau barang mahal dapat dicicil, cultural capital membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Sebaliknya, mereka yang baru menapak status high-class sering menghadapi persoalan psikologis yang berbeda. Kekayaan tidak hanya harus dinikmati, tetapi juga harus dikonfirmasi oleh lingkungan sosial.
Ada kebutuhan untuk terlihat berhasil. Ada keinginan untuk dianggap sukses. Ada ambisi untuk memperoleh likes.
Media sosial mengglorifkasi fenomena tersebut. Setiap orang kini memiliki panggung pribadi. Rumah, mobil, jam tangan, restoran, perjalanan, pakaian, dan gaya hidup dapat diproduksi menjadi konten. Mereka hidup dalam ekosistem ekonomi validasi.
Yang penting tidak hanya memiliki sesuatu, tetapi juga memastikan orang lain ”harus” tahu bahwa mereka memilikinya.
Namun, lagi-lagi kapitalisme sangat pintar beradaptasi. Ketika konsumen mulai bosan dengan kemewahan yang berisik, industri tidak berhenti menjual kemewahan.
Ia hanya mengganti kemasannya. Logo dihilangkan. Harga tetap tinggi. Narasi baru diperkenalkan: kualitas, keberlanjutan, craftsmanship, autentisitas, timeless design, dan selera yang tak lekang waktu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: