Mahalnya Harga Kesederhanaan
ILUSTRASI Mahalnya Harga Kesederhanaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Maka, quiet luxury bisa saja bukan akhir dari konsumerisme. Ia bermetamorfosis ke dalam bentuk baru gaya hidup konsumtif yang lebih halus dan tersamar. Inilah episode yang paling menarik. Kesederhanaan pun ternyata bisa dikomodifikasi.
Bahkan, untuk terlihat ”tidak berusaha”, seseorang kadang harus mengeluarkan ongkos sosial yang sangat mahal.
Sebuah ironi kapitalisme yang hampir sempurna: Anda ”harus” membayar mahal agar terlihat seolah-olah tidak sedang berusaha terlihat kaya. Namun, ada pelajaran yang jauh lebih penting dari sekadar fesyen.
Kekayaan yang sesungguhnya bukan kemampuan membeli barang mahal. Ia adalah kemampuan menentukan apa yang layak dibeli tanpa merasa harus menjelaskan hal itu kepada orang lain.
Kesuksesan pun bukan seberapa mahalnya jam yang melingkar di pergelangan tangan, melainkan seberapa besar kebebasan yang dimiliki seseorang untuk menentukan hidupnya sendiri.
Karena itu, quiet luxury semestinya tidak berhenti pada busana tanpa logo. Ia seharusnya menjadi quiet confidence, kepercayaan diri yang tidak membutuhkan tepuk tangan.
Sebab, orang yang benar-benar berhasil biasanya tidak terlalu sibuk membuktikan keberhasilannya.
Dan, mungkin inilah ironi gaya hidup modern: ketika sebagian orang kaya belajar menjadi makin ”sederhana”, sebagian orang yang baru merasa kaya justru makin sibuk terlihat kaya.
Pada akhirnya, yang paling mahal bukanlah tas, mobil, jam, atau pakaian. Yang paling mahal adalah ”kebebasan untuk tidak membutuhkan pengakuan”. Kemewahan boleh berbisik. Namun, bagi mereka yang masih haus validasi, suara logo harus terdengar jauh lebih nyaring. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: