Mahalnya Harga Kesederhanaan
ILUSTRASI Mahalnya Harga Kesederhanaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
KITA semua tentu kenal sosok Mark Zuckerberg, pendiri sekaligus CEO Meta, yang penampilannya selalu dibalut kaus abu-abu yang itu-itu saja dan terkesan sederhana serta ”murahan” dalam berbagai kesempatan. Demikian pula dengan Warren Buffett, mantan CEO Berkshire Hathaway, investor kondang dengan gaya hidup yang jauh dari stereotipe miliarder flamboyan.
Telepon genggam jadul dan busana sederhana selalu menemani kesehariannya. Kehidupan dua orang terkaya di dunia yang tidak demonstratif sangat lekat menjadi bagian dari citra mereka.
Yang menarik, mereka yang berada di luar lingkaran tersebut sangat mungkin tidak sepenuhnya menyadari. Dan, di sinilah letak paradoks quiet luxury: kemewahan menjadi makin eksklusif justru karena tidak semua orang mampu mengenalinya.
Ada jenis kekayaan yang membutuhkan sorotan kamera. Ada pula kekayaan yang justru tidak membutuhkan siapa pun untuk mengetahuinya. Yang pertama sibuk mencari pengakuan. Yang kedua sudah selesai dengan kebutuhan untuk diakui.
BACA JUGA:Mark Zuckerberg Ungkap Era Media Sosial Telah Berakhir
BACA JUGA:Persaingan Raksasa Teknologi Elon Musk dan Mark Zuckerberg, Pengamat Zuckerberg: Elon Gila
Demam gaya hidup quiet luxury menjadi sangat unik.
Ketika dunia makin gaduh memamerkan keberhasilan melalui media sosial, sebagian orang superkaya justru bergerak ke arah sebaliknya: mengenakan busana tanpa logo papan atas, memilih warna netral, desain sederhana, dan barang-barang yang, bagi mata kebanyakan orang, bahkan tampak biasa saja. Ironisnya, yang ”biasa saja” itu bisa berharga luar biasa mahal.
Fenomena tersebut sekaligus menghadirkan tamparan kecil bagi sebagian mereka yang baru memperoleh kekayaan dan menapak status sosial lebih tinggi, tetapi masih merasa perlu menjelaskan kepada dunia bahwa dirinya sudah kaya.
Mobil harus terlihat mahal. Jam tangan harus mudah dikenali. Tas harus menampilkan logo. Restoran harus instagrammable. Bahkan, liburan pun seolah belum sah sebelum diunggah.
BACA JUGA:Elon Musk Gandeng GSP, Zuckerberg Pamer Latihan dengan Adesanya dan Volkanovski
BACA JUGA:Elon Musk Tantang Mark Zuckerberg Tanding MMA di UFC Octagon, Sang Ibu Khawatir
Thorstein Veblen, ekonom dan sosiolog berkebangsaan Amerika Serikat-Norwegia, yang memopulerkan konsep conspicuous consumption dalam karyanya, The Theory of The Leisure Class: An Economic Study of Institutions, mengemukakan bahwa sejak akhir abad ke-19 konsumsi barang mewah sering kali bukan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk menunjukkan status.
Kemewahan menjadi semacam papan reklame sosial: ”Lihatlah, saya kaya.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: