Dolar AS Melemah, Pasar Menanti Data Inflasi dan Sinyal The Fed

Dolar AS Melemah, Pasar Menanti Data Inflasi dan Sinyal The Fed

Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh saat pidato terkait CPI pada 11 September 2026.-Diolah-

HARIAN DISWAY – Dolar Amerika Serikat (AS) alias USD bergerak melemah pada Rabu, 14 Oktober 2026. Investor menanti rilis data inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) serta pernyataan Federal Reserve (The Fed) tentang arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Pelemahan tersebut terjadi setelah dolar mundur dari level tertinggi dalam 18 bulan pada sesi sebelumnya. Meredanya harga minyak dan evaluasi investor terhadap reli aset AS yang didorong antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi pergerakan nilai mata uang.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama, turun 0,05 persen ke level 102,15. Euro naik 0,06 persen menjadi USD1,1205, poundsterling menguat 0,08 persen ke USD1,3265. Sedangkan, yen juga naik tipis 0,03 persen menjadi 158,395 per USD.

Data Inflasi jadi Penentu Arah USD

Perhatian pasar tertuju pada data CPI AS periode September. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan bahwa inflasi bulanan akan mencapai 0,6 persen. Atau, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus.

BACA JUGA:Dolar AS Tertekan Jelang Risalah The Fed, Pasar Mulai Redam Ekspektasi Kenaikan Bunga

BACA JUGA:Indeks Dolar dan Minyak Dunia Bergejolak, Harga Emas dan Logam Mulia Diproyeksi Menguat Pekan Ini

Secara tahunan, inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,6 persen dari 3,4 persen. Data tersebut berpotensi mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter The Fed.

Jika inflasi, terutama inflasi inti, lebih tinggi daripada perkiraan, imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi naik dan kembali memperkuat dolar.

Carol Kong, ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, memperingatkan bahwa kejutan kenaikan inflasi inti dapat mendorong pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan baru bagi USD.

Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai terkendali dapat mengurangi alasan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneter lebih lanjut.

BACA JUGA:Dolar AS Menguat dan The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Tertekan ke Level Rp17.753

BACA JUGA:Dolar AS Melemah, Rupiah Rebound ke Rp18.022: Ini Analisis Ekonomi Selengkapnya

Pernyataan pejabat bank sentral menjadi penting karena investor masih menilai seberapa besar kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Presiden Federal Reserve New York John Williams memperkirakan masih satu kali lagi kenaikan suku bunga pada tahun ini, tetapi belum melihat alasan untuk menaikkan suku bunga lagi pada 2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: