Dolar AS Melemah, Rupiah Rebound ke Rp18.022: Ini Analisis Ekonomi Selengkapnya

Dolar AS Melemah, Rupiah Rebound ke Rp18.022: Ini Analisis Ekonomi Selengkapnya

ILUSTRASI FGD Bank Indonesia-Akademisi dan Peneliti 29 Juli–1 Agustus 2026 (2): Inovasi untuk Memperkuat Rupiah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Indeks dolar AS menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan hari Jumat 31 Juli 2026.

Sentimen itu memberikan angin segar bagi pasar keuangan domestik. Di mana mata uang Rupiah berhasil ditutup menguat 89 poin ke level Rp18.022 per dolar AS. Setelah sebelumnya sempat mencatatkan penguatan hingga 90 poin dari posisi penutupan di level Rp18.114.  

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, pergerakan Rupiah pada awal pekan depan masih akan diwarnai volatilitas yang cukup tinggi. Rupiah diprediksi akan ditutup melemah di kisaran Rp18.020 hingga Rp18.070 per dolar AS.

Adapun untuk rentang pergerakan selama sepekan ke depan, Rupiah diperkirakan bakal bergerak fluktuatif di level Rp17.920 hingga Rp18.300.  

BACA JUGA:Perang Timteng Berlanjut, Rupiah Tertekan ke Level Rp18.114 per Dolar AS

BACA JUGA:Bank Sentral Indonesia Harus Independen, Dahlan Iskan Kenang Langkah Berani B.J. Habibie Perkuat Rupiah

Analisis moderat itu terjadi karena beberapa pertimbangan. Pertama, panggung global, ketidakpastian masih menyelimuti pasar energi. Harga minyak mentah dunia cenderung menurun akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang diimbangi dengan adanya tanda-tanda peningkatan lalu lintas arus kapal di Selat Hormuz. Jalur itu menjadi titik krusial bagi pasokan energi global karena menyuplai sekitar seperlima kebutuhan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Wilayah ini sebelumnya sempat terisolasi sejak awal konflik antara AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu. Arab Saudi kini tengah memimpin koalisi maritim multinasional untuk mengamankan jalur energi vital di Laut Merah, Bab El-Mandeb, dan Teluk Aden.  

Sementara itu, Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat tetap mempertahankan suku bunga tidak berubah sesuai dengan ekspektasi pasar. Ketua The Fed, Kevin Warsh, belum memberikan sinyal arah kebijakan moneter yang tegas terkait inflasi dan suku bunga ke depan. Namun, keputusan tersebut tidak diambil secara bulat. Terdapat setidaknya tiga pembuat kebijakan yang mendesak adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut karena tingkat inflasi yang dinilai masih sulit dijinakkan atau sticky. Meskipun data inti PCE bulan Juni berada di bawah ekspektasi pasar dan sempat meredakan kekhawatiran, angka tersebut masih berada jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen.  

Di sisi domestik, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan putusan krusial yang akan mempengaruhi struktur anggaran negara. MK memutuskan bahwa anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib dipisahkan dari alokasi wajib 20 persen anggaran pendidikan. Kebijakan ini harus mulai diimplementasikan paling lambat pada APBN Tahun Anggaran 2028. Langkah ini dipandang oleh berbagai kalangan sebagai upaya strategis untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi tata kelola anggaran negara.  

Terkait laju inflasi, Indonesia diprediksi kembali melandai pada Juli 2026. Inflasi tahunan Juli 2026 diperkirakan bergerak mendekati level 3 persen, atau tepatnya 3,06 persen, jauh lebih rendah dibandingkan 3,34 persen pada Juni.

Sementara itu, inflasi bulanan diproyeksikan hanya sebesar 0,03 persen, turun signifikan dari 0,44 persen pada bulan sebelumnya. Perlambatan itu terutama disumbang oleh penurunan harga pangan bergejolak, khususnya cabai merah dan bawang bombai yang memasuki musim panen, serta normalisasi harga yang diatur pemerintah setelah penyesuaian harga bensin nonsubsidi.  

Meskipun tren inflasi membaik, Ibrahim mengingatkan bahwa risiko ekonomi masih mengintai di paruh kedua tahun 2026. "Risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Pihak otoritas harus mewaspadai efek lanjutan dari pelemahan rupiah, potensi ancaman fenomena cuaca El Nino, hingga lonjakan permintaan pangan yang masih berpotensi mendorong kenaikan harga pada sisa tahun ini," ujar Ibrahim.  (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: