Mewujudkan Keadaban Digital Melalui Pendidikan
ILUSTRASI Mewujudkan Keadaban Digital Melalui Pendidikan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menjadikan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media sebagai pilar penting dalam mewujudkan Pendidikan bermutu untuk semua. Empat pilar itu dipopulerkan Mendikdasmen dengan sebutan caturpusat Pendidikan.
Dibandingkan dengan konsep trisentra atau tripusat pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara, yang terbaru (novelty) dari pemikiran mendikdasmen adalah fungsi media. Menurut mendikdasmen, media berfungsi sangat penting untuk memperkuat pembentukan karakter anak pada era digital. Seperti diketahui, era digital merupakan fase baru dalam perkembangan peradaban umat manusia.
Sebelumnya kita mengenal era Revolusi Industri 1.0 (abad ke-18). Era itu merupakan tahap pertama dalam sejarah peradaban manusia. Era tersebut ditandai penemuan mesin uap dan proses produksi di dunia industri dengan menggunakan mesin (mekanik).
Fase kedua dikenal dengan era Revolusi Industri 2.0 (abad ke-19). Era itu ditandai adanya penemuan listrik sebagai sumber energi baru. Proses industri pun dilaksanakan secara massal dengan menggunakan energi listrik. Energi listrik menggantikan tenaga uap sebagai sumber energi utama untuk menjalankan mesin-mesin pabrik.
BACA JUGA:Korban Imperialisme Teknologi: Sudahkah Kita Memiliki Kedaulatan Digital?
BACA JUGA:Kolonialisme Digital Menjajah Indonesia
Fase ketiga dinamakan era Revolusi Industri 3.0 (abad ke-20). Era tersebut ditandai dengan meluasnya penggunaan elektronika dan TIK (teknologi, informasi, dan komunikasi). Pada era itu kita mulai mengenal komputer untuk menggantikan mesin ketik manual. Perkembangan tersebut makin menjadikan tenaga kerja manusia terpinggirkan, untuk selanjutnya diganti dengan mesin dan perangkat TIK.
Era Digital
Fase keempat secara populer dikenal dengan era Revolusi Industri 4.0 (abad ke-21). Era itu ditandai makin meluasnya penggunaan media sosial (medsos). Era tersebut juga ditandai perubahan yang sangat cepat dan sulit diprediksi (volatility), serba-tidak pasti (uncertainty), kondisi yang kompleks atau rumit karena banyak faktor yang memengaruhi (complexity), serta ketidakjelasan informasi karena ditafsirkan dalam banyak perspektif (ambiguity).
Kondisi yang ditandai dengan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) itu merupakan ciri penting era digital. Karena itulah, era digital menghadirkan banyak ”disrupsi”, yakni kondisi yang memaksa sistem konvensional harus berganti dengan tatanan baru berbasis TIK.
Era digital juga meniscayakan terjadinya perubahan pola interaksi masyarakat dari secara fisik-langsung (face-to-face) menjadi interaksi tidak langsung melalui dunia maya.
BACA JUGA:Era Digital: Orang Tua Dikerjai AI, Anak Curhat ke AI
BACA JUGA:Era Digital: Generasi Terkoneksi yang Kehilangan Perjumpaan
Era digital meniscayakan anak-anak menjadi bagian dari masyarakat virtual (virtual community). Mereka menjadi bagian dari pengguna jasa internet yang kini mencapai 210 juta (hampir 75 persen dari jumlah penduduk Indonesia).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: