Mewujudkan Keadaban Digital Melalui Pendidikan
ILUSTRASI Mewujudkan Keadaban Digital Melalui Pendidikan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Anak-anak kita juga bertumbuh dan berkembang menjadi generasi milenial, generasi Z, generasi alpha, atau generasi beta. Mereka umumnya menjadi digital native karena lahir pada era digital. Mereka sangat akrab dengan media digital dan terampil bermedsos.
Pada konteks itulah, para pendidik dan orang tua harus berubah. Pendidik dan orang tua mesti mengikuti perkembangan, termasuk dunia digital. Hal tersebut penting agar proses pendidikan yang dilakukan pendidik dan orang tua sejalan dengan dunia anak-anak sekarang.
Bayangkan, jika pendidik dan orang tua berpandangan dan berbudaya ”jadul, kolot, dan kolonial”. Sementara di bagian lain, anak-anak sudah berbudaya sedemikian maju, terampil bermedsos, dan akrab dengan TIK.
BACA JUGA:Budaya Healing dan Performa Digital
BACA JUGA:Generasi Digital yang Kontrang-kantring
Jika pendidik dan orang tua tidak berubah, anak-anak pasti tidak memperoleh pelayanan pendidikan yang sesuai dengan tantangan masa depan. Era digital juga ditandai berbagai jenis pekerjaan dengan keterampilan baru, yang sama sekali tidak dikenal pada masa sebelumnya.
Dalam waktu bersamaan kini juga banyak pekerjaan yang hilang dari peredaran. Umumnya, jenis pekerjaan yang hilang itu disebabkan tidak dibarengi penyesuaian dengan keterampilan era kekinian, termasuk penggunaan media digital dan keterampilan bermedsos.
Keadaban Digital
Persoalan yang penting diperhatikan pada era digital adalah keadaban bermedia. Hal itu karena era digital telah melahirkan budaya baru dalam bermedia. Salah satunya, gaya berkomunikasi pada era ini banyak dilakukan melalui dunia maya dengan menggunakan medsos. Melalui medsos, semua pemberitaan berlangsung sangat cepat dan mudah.
Insiden yang terjadi di belahan dunia mana pun dengan cepat akan diketahui publik seantero dunia. Dengan demikian, rasanya sangat sulit kita ”berbohong” di era digital ini. Hal itu karena kita memiliki apa yang disebut ”rekam jejak digital”. Semua peristiwa yang pelaku-pelakunya berinteraksi melalui medsos pasti akan dengan mudah dilacak jejak digitalnya.
Era digital juga menjadikan kita makin sulit memilah pemberitaan yang benar (haq) dan bohong (hoax). Hal itu karena kita sejatinya sedang hidup di era pasca-kebenaran (post-truth). Pada masa lalu, untuk mengetahui sesuatu itu dikatakan benar atau salah, ukuran utamanya adalah fakta. Namun, pada masa post-truth, ukuran kebenaran lebih banyak ditentukan oleh opini penerima atau pembawa berita.
Penerima atau pembawa berita cenderung mengatakan sesuatu itu benar jika sesuai dengan opininya. Sebaliknya, suatu berita akan ditolak atau dinilai hoaks jika tidak sesuai dengan persepsinya. Pada konteks itulah, kita mesti lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan berita. Apalagi, kita kini hidup dalam era digital, zaman medsos, disrupsi, dan post-truth. Kehati-hatian tersebut penting sebagai bagian dari mewujudkan keadaban digital.
Melalui Pendidikan
Pada era post-truth semua pihak mesti menghadirkan nilai-nilai keadaban digital. Istilah keadaban digital disebut juga dengan kesalihan digital. Di dunia pendidikan, budaya berkeadaban digital penting dipraktikkan oleh pendidik, orang tua, dan murid. Keadaban digital (digital civility) adalah bersikap positif, santun, bijak, beretika, dan bertanggung jawab ketika menggunakan teknologi dan internet.
Dalam dunia pendidikan, keadaban digital merupakan sebuah keniscayaan. Untuk mewujudkan keadaban digital sejak dini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: