Masih Relevankah Linguistik di Era AI?

Masih Relevankah Linguistik di Era AI?

ILUSTRASI Masih Relevankah Linguistik di Era AI? -Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PADA 5 dan 6 Oktober 2026, Perkumpulan Program Pascasarjana Linguistik Indonesia (PROPLI) melakukan pertemuan ke-2 di Universitas Indonesia. Perkumpulan itu sendiri sejatinya sudah dimulai sejak 2018. Pada 2025, para pengurus dan anggota PROPLI sepakat untuk melakukan pertemuan tahunan guna membahas isu-isu penting terkait peran prodi Linguistik untuk masyarakat Indonesia. 

Selain itu, pertemuan tersebut juga dilakukan untuk membahas agenda rutin terkait program studi seperti kurikulum, program kerja sama antarprodi pascasarjana linguistik se-Indonesia dan berbagai persoalan yang menyangkut proses belajar mengajar mahasiswa pascasarjana linguistik. 

Pada kali ini, PROPLI yang beranggota 17 prodi linguistik dari berbagai universitas di seluruh Indonesia berkesempatan untuk melegalkan asosiasi prodi secara hukum di depan notaris dengan disaksikan seluruh perwakilan anggota. 

Acara yang berlangsung dua hari itu juga diisi sesi pembahasan kurikulum dan isu tentang peran prodi linguistik dalam menjawab tantangan yang ada. Antara lain, tentang apakah linguistik masih dianggap relevan dalam era teknologi digital dan kecerdasan buatan.

BACA JUGA:Ketika Kata Menjadi Barang Bukti: Mengapa Linguistik Forensik Mendesak di Era Digital

BACA JUGA:Code Switching dan Code Mixing dalam Linguistik, Apa Bedanya?

Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa rata-rata prodi pascasarjana linguistik mempunyai jumlah peminat yang fluktuatif. Ada kalanya jumlah peminat menurun, tetapi ada pula saatnya jumlah peminat meningkat sehingga terkadang daya tampung tidak terpenuhi. 

Ketidakpastian jumlah peminat itu mungkin disebabkan adanya pertanyaan yang telah lama bergulir di masyarakat yang menyasar prodi-prodi sosial humaniora, termasuk linguistik, ”mau jadi apa setelah lulus?” Ditambah dengan isu santer pemerintah yang telah menutup banyak prodi yang dianggap tidak relevan dengan industri. 

Dengan begitu, keberadaan prodi-prodi ilmu sosial humaniora seakan makin dituntut untuk membuktikan seberapa penting keilmuan mereka dibutuhkan dalam masyarakat di era industri teknologi digital, terutama era kecerdasan buatan. 

Linguistik sebagai Landasan Berbahasa dan Komunikasi

Sebagai bidang ilmu, linguistik mempelajari tentang seluk-beluk bahasa yang diperlukan sebagai landasan manusia dalam berbahasa dan berkomunikasi. Sejak awal kemunculannya, banyak linguis yang telah berkontribusi dalam masyarakat. 

BACA JUGA:Hangul di Baubau: Jejak Budaya dan Linguistik Indonesia-Korea

Mulai Saussure yang meletakkan dasar struktural linguistik dan konsep linguistic sign yang terdiri atas signifiers dan signified sampai Chomsky yang, terlepas dari berbagai kontroversinya, menjadi pelopor dalam generative linguistics dengan konsep universal grammar-nya. 

Penelitian di bidang linguistik yang terus dilakukan hingga saat ini juga terbukti adaptif sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya, di era kecerdasan buatan atau AI, natural language processing dan computational linguistics banyak diminati karena penting bagi pengembangan LLM (large language model) yang diperlukan dalam perbaruan AI. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: