Kerbau/Sapi yang Menyeberang ke Dunia Komik: Jan van der Putten Membaca Ulang Kearifan Lokal Indonesia

Kerbau/Sapi yang Menyeberang ke Dunia Komik: Jan van der Putten Membaca Ulang Kearifan Lokal Indonesia

Nur Wulan dan Ida Nurul Chasanah. Keduanya adalah dosen di Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya, FIB, Universitas Airlangga.--

SIANG ITU, tepatnya Selasa, 13 Oktober 2026, di ruang kuliah Magister Kajian Sastra dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga, hampir seluruh peserta kuliah tamu terpaku menyimak paparan Jan van der Putten, peneliti dari University of Hamburg, yang menyampaikan presentasi hasil penelitiannya dengan judul jenaka, bahkan sedikit nakal, Kebudayaan Indonesia yang Mabok Kepayang dan Kearifan Lokal yang Sakit Gigi. 

Di balik tawa kecil para peserta di ruangan, kami menyadari ada refleksi serius di sana. Kepayang, buah Pangium edule atau keluak yang biasa kita kenal di dapur, berkelindan dengan ungkapan mabuk kepayang. 

Bagi kami, metafora sakit gigi pada kearifan lokal terasa begitu mengena, menggambarkan sesuatu yang hadir dan terasa ngilu dalam hidup kita, tetapi mungkin tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Kadang-kadang, kebudayaan kita tidak benar-benar hilang, tetapi hanya kehilangan cara untuk menjelaskan dirinya sendiri kepada kita. Ritual yang dahulu mengikat komunitas perlahan bergeser menjadi dokumentasi arsip, mitologi menjelma gambar visual, dan simbol-simbol sakral mendadak muncul kembali di halaman-halaman komik.

BACA JUGA:Perkuat Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal, Kampi Hotel Tunjungan Gandeng UMKM Batik Surabaya

 BACA JUGA:Eksistensi Kearifan Lokal: Tarik Ulur antara Warisan Leluhur dan Tren

Di tengah perubahan media itu, sebuah pertanyaan mengusik pikiran kami: ketika kebudayaan berpindah dari satu ruang ke ruang lain, apakah maknanya ikut berpindah, berubah, atau justru menguap begitu saja? 

Lewat susunan salindia yang mempertemukan arsip, mitologi, hingga komik populer, Pak Jan membawa kami dan para peserta kuliah tamu siang itu melintasi objek-objek budaya yang sepintas berjauhan. 

Ritual pemotongan kerbau di tanah Batak, praktik masyarakat Bahnar di Vietnam, mitos banteng Mesopotamia, hingga komik lokal karya Teguh Santosa dan Ade Kamesywara diletakkan dalam satu meja bacaan. Pertemuan itu tidak hanya memperluas wawasan kami, tetapi juga mengusik cara kami melihat batas antara tradisi dan modernitas, yang sakral dan yang populer.

Kebudayaan Bukan Benda yang Membeku

Satu hal yang menyentil kami dari paparan tersebut adalah kecenderungan kita untuk memperlakukan budaya sebagai peninggalan yang sudah selesai. Seolah-olah tugas kita hari ini hanyalah menjadi penjaga museum yang merawat benda mati. 

BACA JUGA:Wiwin Sumrambah Dorong Penguatan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal di Jombang

BACA JUGA:Sinopsis Abadi nan Jaya, Film Zombie Perdana Indonesia dengan Kearifan Lokal

Kita sibuk mengarsipkan artefak atau mengulang ritual pada tanggal tertentu, tetapi lupa menghidupkan maknanya. Padahal, kebudayaan yang kita pahami terus bernapas dan bernegosiasi dengan zaman. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: