Eksistensi Kearifan Lokal: Tarik Ulur antara Warisan Leluhur dan Tren
Agatha Dinarah Sri Rumestri adalah pengajar Prodi S-1 Desain Produk Telkom University Purwokerto.--
MENILIK pada tren gaya hidup masa kini terkait fenomena pergeseran selera masyarakat kita, khususnya generasi muda Indonesia, yang hari ini jauh lebih menggandrungi produk bercita rasa global. Mulai demam K-pop, K-drama, dracin, kuliner Jepang, hingga gaya hidup berkiblat Barat yang dianggap lebih prestisius.
Di samping itu, cukup marak bermunculan sistem pembelajaran yang memberikan porsi cukup besar untuk hal-hal yang berkonsep ”global/internasional”. Prioritas penggunaan bahasa asing, kurikulum asing, budaya asing, dan berbagai hal yang dipelajari anak-anak sekarang.
Makin sulit dijumpai khazanah pembelajaran yang mengantarkan peserta didik pada berbagai pengetahuan yang lahir dari kearifan lokal. Misalnya, makna upacara adat, cara memainkan alat musik tradisional, dan cara memasak kuliner Nusantara. Hal itu makin membangun jurang pemisah antara individu dan budaya lokalnya.
Di tengah gempuran tren global yang begitu memikat, sebuah pertanyaan besar muncul: Haruskah tradisi dilupakan? Dapatkah tradisi bersanding serasi dengan kehidupan modern yang sarat pengaruh global? Apakah tradisi kita masih relevan sebagai medium berkreativitas?
BACA JUGA:Pajak 250 Persen dan Psikologi Massa: Emosi Kolektif dan Kearifan Lokal
Dilema semacam itulah yang kerap membayangi bangsa kita baik masa kini maupun di masa depan.
Pada intinya, tradisi sering kali diidentikkan dengan citra kuno, primitif, statis, membosankan, dan konotasi lain yang jauh dari kemampuannya beradaptasi dengan kehidupan manusia modern.
Budaya tidaklah sekadar cerita ataupun peninggalan masa lalu untuk kemudian dilupakan. Sudah bukan saatnya kita hanya terlena dengan konsumsi budaya asing ataupun produk impor yang secara bombastis memanjakan seluruh indera dan merasuki mental kita.
Alih-alih kita asyik dengan budaya orang lain, sementara budaya kita diklaim oleh bangsa lain. Kemudian, kita tersadar dengan sejuta penyesalan setelah kehilangan sesuatu yang berharga.
BACA JUGA:Wiwin Sumrambah Dorong Penguatan Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal di Jombang
BACA JUGA:Sinopsis Abadi nan Jaya, Film Zombie Perdana Indonesia dengan Kearifan Lokal
Menyadari berbagai tantangan itu, gagasan mengenai pelestarian budaya bukan lagi sekedar upaya klise, melainkan langkah strategis demi menjaga keberlanjutan nilai-nilai kearifan lokal di tengah derasnya arus globalisasi.
Menariknya, melestarikan budaya di era sekarang tidak berarti kita harus menutup diri dari tren dunia atau melarang generasi muda menyukai budaya asing. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengemas ulang tradisi tersebut menjadi sebuah wadah kreatif yang dinamis, modern, dan relevan dengan perubahan selera zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: