Kampungku Pasar, Pasarku Kampung

Kampungku Pasar, Pasarku Kampung

Pasar Pabean yang merupakan salah satu pasar tradisional yang masih bertahan di Kota Surabaya. -Purnawan Basundoro-

Ritme hidupnya kini diatur oleh jam operasional pasar. Bukan oleh musyawarah, hajatan, atau anak-anak yang bermain di gang.

Rumah yang mestinya menjadi pusat realisasi kehidupan berubah menjadi pulau-pulau kecil yang terjepit di antara gudang-gudang tak berpenghuni.

Warga yang bertahan merasa tinggal menghitung hari saja. Karena ke depan bisa jadi mereka juga ikut terhempas.

Warga yang tersisa melawan kondisi tersebut. Mereka menghidupkan perkampungannya dengan beberapa cara.

Di antaranya adalah tetap mempertahankan fasad rumah. Sehingga kelestarian bangunan-bangunan kunonya tetap terjaga. 

Kemudian memperjelas batas antara Rukun Tetangga/Rukun Warga dengan pasar, melakukan penghijauan (penghijauan menjadi tanda bahwa rumah tersebut dihuni).

Warga juga mengenalkan makanan lokal dan UMKM, mengaktifkan kegiatan kepemudaan, aktivitas sosial, keagamaan, serta mengenalkan sejarah perkampungan Pabean kepada warga sendiri maupun masyarakat umum. 

Warga juga mencoba menghidupkan khataman. Dengan mengirim doa kepada tokoh-tokoh penting yang pernah hidup di perkampungan Pabean.

Seperti Abdulwahab Saleh, wartawan yang mendokumentasikan peristiwa perobekan bendera di Hotel Oranje, H. Fidholi, ketua Rukun Kampung pertama (sekarang Rukun Warga) sekaligus tokoh laskar Hizbullah. Juga P.A Aminah, pemilik “Bengkel Sayangan” di Pabean Sayangan yang terkenal.

Upaya-upaya kecil tersebut dapat dibaca bukan sekadar sebagai nostalgia. Melainkan sebagai bentuk perlawanan diam-diam terhadap komodifikasi ruang.

Setiap pohon yang ditanam, setiap batas RT/RW yang ditegaskan, setiap doa yang dipanjatkan untuk tokoh kampung, adalah usaha untuk memberi penegasan.

Bahwa rumah dan kampung tetap memiliki nilai guna. Yaitu nilai untuk dihuni, untuk saling terhubung, untuk menjadi tempat hidup bersama. 

Apalagi di tengah tekanan nilai tukar yang terus mendesak dari segala arah. Warga merasa kampung dan pasar merupakan dua entitas yang sama-sama penting. Sehingga seharusnya dapat berjalan beriringan dengan baik. (*)

*) Asisten Peneliti SEANNET Surabaya, Mahasiswa MKSB UNAIR, & Tendik FIB UNAIR.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: