Kampungku Pasar, Pasarku Kampung

Kampungku Pasar, Pasarku Kampung

Pasar Pabean yang merupakan salah satu pasar tradisional yang masih bertahan di Kota Surabaya. -Purnawan Basundoro-

Pemilik rumah yang baru sering kali acuh tak acuh dengan peraturan kampung. Rumah-rumah yang telah dibeli biasanya akan direnovasi oleh pemilik modal.

Tentu dengan menyesuaikan kebutuhan gudangnya. Sehingga dirasa tidak melestarikan warisan-warisan sejarah perkampungan itu sendiri.

BACA JUGA:Kampung Pancasila, Wajah Humanis Surabaya Menuju Kota Global

BACA JUGA:Pertaruhan Nyali Terakhir Wali Kota Surabaya Menumpas Mafia Parkir Surabaya

Terdapat perbedaan mencolok terkait kegunaan rumah yang awalnya merupakan rumah toko (ruko) menjadi toko saja. 

Fenomena pergeseran rumah dari tempat tinggal menjadi gudang di Perkampungan Pabean tidak berdiri sendiri.

Ia mencerminkan mekanisme yang oleh Karl Marx disebut sebagai pergeseran komoditas dari nilai guna (use value) ke nilai tukar (exchange value).

Dari sesuatu yang dihargai karena kemampuannya memenuhi kebutuhan manusia, menjadi sesuatu yang dihargai semata karena dapat dipertukarkan di pasar.

BACA JUGA:Surabaya Melting Borders: Membayangkan Kepadatan dan Masa Depan Kota Raya

BACA JUGA:Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman

Proses jual-beli rumah yang kerap dilakukan tanpa melibatkan pengurus RT/RW adalah bukti konkret dari pergeseran tersebut.

Bahwa transaksi berlangsung sebagai murni transaksi pasar. Lepas dari ikatan sosial dan kelembagaan kampung yang semestinya menyertai perpindahan sebuah rumah.

Hakikat rumah dalam kehidupan manusia adalah sebagai pusat realisasi kehidupan. Tempat manusia berinteraksi dengan sesamanya dalam lingkup keluarga maupun masyarakat.

Dari segi fisik, rumah menjadi tempat tinggal. Berfungsi sebagai tempat perlindungan dari panas maupun hujan.

BACA JUGA:Sister City Surabaya-Varna untuk Masa Depan Kota Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: