Kampungku Pasar, Pasarku Kampung

Kampungku Pasar, Pasarku Kampung

Pasar Pabean yang merupakan salah satu pasar tradisional yang masih bertahan di Kota Surabaya. -Purnawan Basundoro-

BACA JUGA:Kugadaikan Kotaku: Ketika Laut dan Hidup Dipertaruhkan

Rumah-rumah di perkampungan Pabean berubah dari kebutuhan dasar menjadi komoditas yang tunduk pada kepentingan pasar.

Rumah tidak lagi dipahami sebagai tempat tinggal. Tetapi sebagai aset ekonomi yang menghasilkan keuntungan.

Perkampungan Pabean harus berhadapan dengan kapitalisme pasar yang mempengaruhi kondisi sosial ekonomi. Yakni melalui kepemilikan rumah yang kuasai oleh pemodal yang menjadikannya sebagai gudang.

Selain itu, kapitalisme pasar juga membentuk pola pikir, gaya hidup, serta perilaku individu warga yang ada di Perkampungan Pabean. 

Teori Marx mengkritisi konsep komodifikasi kapitalis yang mengutamakan keuntungan spekulatif daripada kebutuhan dasar manusia.

Transformasi perumahan dari kebutuhan dasar manusia (nilai penggunaan) menjadi komoditas spekulatif (nilai tukar) merupakan ciri khas ekonomi perkotaan kontemporer.

Secara historis, perumahan terutama dihargai karena kapasitasnya untuk menyediakan tempat berlindung, keamanan, dan lokasi bagi kehidupan sosial dan budaya.

Namun, selama beberapa dekade terakhir, perumahan semakin menjadi objek investasi, spekulasi, dan pembiayaan. Dengan implikasi mendalam terhadap keterjangkauan, ketidaksetaraan, dan stabilitas masyarakat.

Kapitalisme mengatur sendi-sendi kehidupan warga perkampungan Pabean. Mereka terpaksa menyesuaikan diri dengan kondisi kampungnya yang menjadi pasar.

Akibatnya, hubungan antarwarga mengalami penurunan kualitas. Karena interaksi yang semakin terbatas. Juga komunikasi yang kurang intensif seiring dengan berkurangnya jumlah penduduk.

Warga perkampungan Pabean mungkin tetap tinggal di kampung yang sama. Namun, secara emosional merasa jauh dan tidak memperoleh kenyaman sebagaimana fungsi ideal pemukiman. 

Dampaknya bukan hanya ekonomi. Melainkan juga eksistensial. Warga yang bertahan mengalami apa yang oleh Marx disebut sebagai alienasi. 

Meski dalam konteks Marx, istilah itu awalnya merujuk pada keterasingan buruh dari hasil kerjanya sendiri. Di perkampungan Pabean bentuknya bergeser menjadi keterasingan warga dari ruang hidupnya.

Mereka tetap tinggal di kampung yang sama. Tetapi kampung itu tidak lagi menjadi milik mereka secara sosial.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: