Transformasi Penanganan Kanker
ILUSTRASI Transformasi Penanganan Kanker.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mendorong perempuan rutin menjalani pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan (SADANIS).
Program Deteksi Dini
Program pencegahan dan deteksi dini kanker payudara serta kanker serviks perlu diselenggarakan secara terencana, merata, dan sesuai dengan kemampuan layanan di setiap daerah. Pemeriksaan harus disertai tindak lanjut bagi perempuan yang hasilnya menunjukkan kelainan.
Program pemerintah yang memasukkan vaksinasi HPV sebagai program imunisasi anak usia sekolah layak mendapat apresiasi. Penelitian di Inggris yang dimuat jurnal The Lancet (2021) menunjukkan bahwa perempuan yang divaksinasi HPV pada usia 12–13 tahun mengalami penurunan kejadian kanker serviks hingga 87 persen. Pada kelompok yang divaksinasi di usia 16–18 tahun, penurunannya hanya 34 persen.
Artinya, makin muda usia vaksinasi, makin besar perlindungannya. Program pemerintah yang memberikan vaksinasi HPV kepada anak SD selaras dengan penelitian itu. Edukasi masyarakat mengenai kanker dan pencegahannya perlu diperkuat. Pengetahuan tersebut dapat membantu generasi muda memahami cara menjaga kesehatan dan kapan perlu mencari pertolongan.
Perkembangan Terapi Kanker
Terapi kanker terus berkembang. Selain pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi, kini tersedia terapi target dan imunoterapi. Terapi target bekerja pada sasaran tertentu yang berperan dalam pertumbuhan kanker, sedangkan imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh membasmi sel kanker.
Sebagian antibodi monoklonal digunakan sebagai terapi target, sementara sebagian lainnya membantu meningkatkan respons imun. Antibodi adalah protein kekebalan tubuh yang mampu mengenali sasaran tertentu. Dalam pengobatan kanker, antibodi monoklonal dibuat di laboratorium, dirancang untuk dapat mengenali sel target.
Perkembangan pemakaian antibodi monoklonal dalam pengobatan kanker terus meluas. Antibodi monoklonal dikembangkan dengan berbagai cara kerja: menandai sel kanker agar lebih mudah dikenali sistem imun, menghambat sinyal yang mendukung pertumbuhan kanker, atau membantu mengaktifkan kembali respons sel T (sel imun tubuh kita untuk membasmi kanker).
Salah satu bentuk terapi berbasis antibodi adalah antibody-drug conjugate (ADC). ADC menggabungkan antibodi yang mengenali target tertentu, penghubung (linker), dan muatan obat sitotoksik (payload).
Setelah berikatan dengan target yang ada di permukaan sel kanker, ADC masuk ke sel dan melepaskan payload untuk merusak sel kanker tersebut. Cara itu membantu menghantarkan obat dengan lebih terarah pada sel target dan berusaha meminimalkan dampak pada jaringan sehat.
Imunoterapi juga berkembang luas dalam pengobatan kanker. Secara sederhana, sel kanker dapat menghambat kerja sel T sehingga efektivitas sel T dalam membasmi sel kanker terhambat. Untuk menghambat proses itu, dikembangkan imunoterapi berbasis immune checkpoint inhibitor (ICI).
Obat itu menghalangi penghambatan aktivitas sel T oleh sel kanker sehingga sel T tetap dapat bekerja. Salah satu contoh pemanfaatan klinis obat golongan tersebut adalah pada kanker serviks.
Dalam uji klinis fase III KEYNOTE-826, penambahan pembrolizumab (obat golongan ICI) pada kemoterapi, dengan atau tanpa bevacizumab, memperlambat perburukan penyakit dan memperpanjang kelangsungan hidup pada pasien tertentu dengan kanker serviks yang menetap, kambuh, atau telah menyebar.
Tantangan Pengobatan Kanker
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: