Transformasi Penanganan Kanker

Transformasi Penanganan Kanker

ILUSTRASI Transformasi Penanganan Kanker.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kanker masih menjadi beban kesehatan di dunia, termasuk di Indonesia. GLOBOCAN 2024 memperkirakan, terdapat 474.083 kasus baru dan 283.299 kematian akibat Kanker di Indonesia. Pada perempuan di Indonesia, Kanker payudara menempati urutan pertama, disusul Kanker serviks dan Kanker ovarium. 

Data American Cancer Society menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, sejak 1991 sampai 2020, angka kematian akibat kanker menurun sebesar 33 persen. American Cancer Society juga melaporkan penurunan kejadian kanker serviks sebesar 65 persen pada perempuan berusia 20–24 tahun di Amerika Serikat antara 2012 dan 2019.

Kanker Bisa Dicegah

World Health Organization (WHO) memperkirakan, 30–50 persen kanker bisa dicegah karena faktor risiko telah diketahui dan tersedia deteksi dini yang efektif. Salah satu kanker yang faktor risikonya sudah diketahui dengan jelas adalah kanker paru. 

Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama kanker paru. Beberapa kanker yang disebabkan oleh infeksi juga bisa dicegah. Infeksi human papillomavirus (HPV) yang menetap merupakan penyebab utama kanker serviks, sedangkan infeksi hepatitis B dan C merupakan faktor risiko kanker hati.

BACA JUGA:Kanker Payudara: Pita Pink, Beban, dan Harapan

BACA JUGA:Vaksin Kanker Paru di Indonesia

Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang sebagian besar dapat dicegah melalui vaksinasi HPV dan skrining. 

Ada beberapa alasan mengapa kanker serviks bisa dicegah: perjalanan dari serviks normal sampai menjadi kanker berjalan dalam waktu yang lama, penyebabnya jelas, dan ada tersedia deteksi dini yang efektif dengan menjalani inspeksi visual dengan asam asetat, pap smear, atau tes HPV rutin pada setiap perempuan yang sudah berhubungan seks dan mencapai usia tertentu, ada maupun tidak ada keluhan. 

WHO mendorong vaksinasi HPV, skrining serviks secara berkala, dan penanganan tepat bagi perempuan yang terdeteksi memiliki kelainan. WHO kini menjadikan tes DNA HPV sebagai metode utama skrining kanker serviks, dan Indonesia telah memasukkannya ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis.

Kanker payudara termasuk salah satu kanker yang bisa dideteksi dini. American Cancer Society dalam panduannya menyarankan pemeriksaan mamografi setiap tahun untuk perempuan berusia 45–54 tahun dan setiap dua tahun untuk perempuan berusia di atas 55 tahun. 

Berbeda dengan skrining kanker serviks yang dapat menemukan lesi prakanker, deteksi dini kanker payudara terutama bertujuan menemukan kanker pada tahap lebih awal agar penanganan dapat segera diberikan. 

BACA JUGA:Kanker Serviks di Indonesia

BACA JUGA:Sel Punca, Masa Depan Pengobatan Kanker

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: