Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Mengapa Kasus DBD dan Malaria Kian Mengkhawatirkan?
Ilustrasi nyamuk Aedes yang populasinya bisa melonjak akibat perubahan iklim dan sebabkan Demam Berdarah Dengue (DBD).- Ravi Kant - Pexels
HARIAN DISWAY - Penelitian terbaru Monash University mengungkapkan bahwa penekanan laju penyakit akibat nyamuk di masa perubahan iklim sangat bergantung pada tindakan pencegahan yang komprehensif.
Langkah-langkah kunci yang mencakup pemusnahan vektor, program vaksinasi, serta penurunan emisi gas rumah kaca untuk menghambat pemanasan global menjadi prioritas utama.
Fakta tersebut tercatat dalam studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti Monash University. Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances menghadirkan dinamika ekologi, epidemiologi, dan sosial-ekonomi.
Ketiganya saling berinteraksi dalam mempengaruhi risiko penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria.
BACA JUGA:Dinkes Sidoarjo Ajak Warga Lebih Waspada DBD setelah Pasien Anak Meninggal Dunia
BACA JUGA:Deni Wicaksono Ajak Seluruh Kader PDIP Jatim Aktif Cegah Wabah DBD
Malaria merupakan penyakit fatal yang disebabkan oleh infeksi parasit dan ditularkan lewat gigitan nyamuk Anopheles betina. Sedangkan, DBD diakibatkan infeksi virus yang menyebar lewat gigitan nyamuk Aedes betina.
Ratusan juta orang di seluruh dunia terinfeksi virus malaria dan DBD setiap tahunnya akibat gigitan nyamuk. Di Indonesia, lonjakan kasus tergolong mengkhawatirkan.
Angka penderita malaria melesat 69 persen, dari 418 ribu pada 2023 menjadi 706 ribu pada 2025. Ini mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah.
Dr. Toby Cumming, peneliti utama Health and Climate Initiative di Monash School of Public Health and Preventive Medicine, menegaskan bahwa intervensi kesehatan masyarakat yang efektif sangat bergantung pada pemahaman mendalam atas berbagai faktor pendorong penularan penyakit.
BACA JUGA:Medical Health Talk RSPAL dr. Ramelan: Musim Hujan Rawan DBD, Pastikan Tubuh Terhidrasi
BACA JUGA:1.600 Warga Timika Telah Terima Vaksin Qdenga: Langkah Nyata Tangkal DBD
"Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu dan pergeseran pola curah hujan, sehingga memperluas wilayah yang cocok bagi populasi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang pesat," terang Cumming dalam pernyataan resmi yang diterima Harian Disway awal pekan ini.
Perubahan iklim juga memegang peranan penting. Kendati kondisi cuaca antardaerah berbeda-beda, dampaknya terhadap dinamika penularan malaria dan DBD secara umum menunjukkan pola yang serupa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: