Advokasi dan Audiensi Jadi Jalan Ninja Abdul Majid demi Hak Hidup yang Setara
ABDUL MAJID memperjuangkan kesetaraan hak bagi kawan-kawan difabel lewat advokasi dan audiensi. Foto diambil saat Majid mengikuti short course program di Australia.--Abdul Majid untuk Harian Disway
Abdul Majid tahu benar rasanya diremehkan. Karena itu, penyandang disabilitas sensorik netra tersebut tak pernah membiarkan teman-teman difabel berproses sendirian.
TERLAHIR non-disabilitas, Majid butuh waktu sekitar dua tahun untuk menerima keadaannya. Retina matanya rusak permanen akibat kecelakaan kerja di kantor jasa penilai publik pada 2013. Setelah musibah itu, ia tidak bekerja. Ia harus istirahat total untuk pemulihan.
Namun, pemulihan yang ia upayakan tak kunjung datang. Pada 2017, ia harus menerima kenyataan bahwa penglihatannya tak akan pernah kembali.
"Sejak saat itu, saya jadi penyandang disabilitas," katanya kepada Harian Disway saat dijumpai Sabtu, 17 Oktober 2026.
BACA JUGA:Sosok Pejuang Hak Difabel Jatim, Abdul Majid Terima Lencana Jer Basuki Mawa Beya
BACA JUGA:Merawat Sesama, Menguatkan Harapan Lansia dan Disabilitas
Meski secara lahir menerima kekurangannya, batin Majid masih berontak. Ada proses panjang yang ia jalani secara personal sebelum hatinya sepakat dengan isi kepalanya. Pada 2019, Majid baru benar-benar bisa menerima kondisi barunya.
Pada tahun itu juga, ia memutuskan untuk mendampingi kawan-kawan difabel. Perjalanannya dimulai dari menjadi pendamping korban kekerasan fisik dan seksual. Dalam misi itu, ia berkolaborasi dengan Polda Jawa Timur dan Direktorat PPA PPO.
Banyak pengalaman yang menempa kepribadian Majid. Rasa percaya dirinya tumbuh berkat keterlibatannya membongkar kasus-kasus yang merugikan kawan difabel. "Paling gongnya itu memenjarakan predator seksual," katanya.

KOALISI disabilitas menjadi wadah Abdul Majid untuk mendampingi kawan-kawan difabel dalam mengupayakan kesetaraan hak dan peluang.--Abdul Majid untuk Harian Disway
Pada 2021, Majid mendirikan Lira Disability Care (LDC). Lembaga itu berfokus pada layanan advokasi di bidang litigasi, kebijakan, dan riset atau inovasi untuk pemberdayaan teman-teman penyandang disabilitas. Lingkupnya adalah Jawa Timur hingga nasional.
BACA JUGA:DPRD Jawa Timur Dorong Penyusunan Tiga Pergub untuk Implementasi Perda Disabilitas di Surabaya
Setelah LDC, ia membentuk Koalisi Disabilitas Sidoarjo. Tujuannya adalah advokasi dan menyusun Raperda Disabilitas di Sidoarjo. Perjuangannya berhasil. Pada Desember 2024, Perda Disabilitas disahkan di Sidoarjo.
Di sela perjuangan itu, ia menyempatkan diri mengikuti short course program di Queensland University of Technology, Australia, pada 2024.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: