Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Menemui Pasangan Adopsi di Restoran Belanda (21)

Kamis 08-09-2022,11:40 WIB
Reporter : Salman Muhiddin
Editor : Salman Muhiddin

Ada banyak restoran di dekat rumah Ana Maria van Valen di Eastwood CitraLand. Namun, rombongan Yayasan Mijn Roots yang datang dari Belanda dipertemukan di Restoran Kayyana, Jalan dr Soetomo Nomor 50-52. Tengah Kota Surabaya.

Restoran yang bercat dominan putih itu berada di salah satu area paling strategis di Surabaya. Dekat gedung Wismilak, tak jauh dari perempatan Jalan Raya Darmo.

Dari bagian depannya, sudah kelihatan bahwa itu bangunan peninggalan Belanda. Terlihat dari temboknya yang tebal dengan ornamen khas arsitektur kolonial Belanda. 

Bangunan cagar budaya itu direnovasi tanpa merusak bangunan utama. Pengelola memadukan interior Jawa dengan kesan modern.

Mereka memajang ornamen Delft Blue atau produk keramik yang diproduksi sejak abad ke-17 di Kota Delft, Belanda. Di dindingnya banyak foto lawas dari Indonesia maupun Belanda. Ada pula rangkaian bunga yang jadi tempat selfie untuk pengunjung restoran.

Ana sudah memesan ruang khusus di sisi samping. Tak boleh ada yang masuk di sana. Sebab, Bob Schellens bakal mengambil video wawancara untuk proyek film dokumenternya.

Di kursi pojok sudah ada Tim van Wijk dan Sumi Kasiyo. Wajah mereka sangat Indonesia. Lebih spesifik lagi: Jawa. Sepasang kekasih itu juga anak adopsi. Tim dari Semarang, sedangkan Sumi dari Trenggalek.

Kesamaan nasib menyatukan keduanya. Menurut Ana, ada beberapa anak adopsi yang cinlok saat bergabung dengan Yayasan Mijn Roots. Tak terkecuali Ana. Ia juga cinlok dengan Bud Wichers, kontributor Harian Disway yang sudah dua kali menembus Ukraina tahun ini.

Sayang, Bud tidak bisa hadir di pertemuan itu karena masih di Belanda. Budi tak bisa pulang cepat karena pemulihan setelah operasi tumor di lehernya.


Ana Maria van Valen dan Sumi Kasiyo berbincang sambil melahap hidangan khas Belanda di Restoran Kayyana Surabaya, Sabtu, 6 Agustus 2022.--

Olvi Jasinta yang tidak bisa bergabung karena pulang kampung ke Sulawesi Utara juga menikah dengan anak adopsi asal Indonesia. Namun, suaminyi diadopsi orang Belgia.

Bob Schellens yang masih single terlihat sibuk dengan semua peralatan podcast -nya. Ia bakal mewawancarai Tim dan Sumi untuk. Wartawan Disway Internship Programme (DIP) Abimanyu Ardiansyah membantu Bob jadi operator.

Sambil menunggu Bob memasang kamera, hidangan buah dan kacang telur disuguhkan. Juga, kopi dan minuman es. Ana memesan panekuk, pancake khas Belanda yang masih hangat. Enak. Tetapi, lidah Jawa kami belum terbiasa dengan makanan itu.

Juga, ada tahu isi yang sangat menggiurkan. Itulah yang jadi rebutan. Kami sudah membayangkan isinya adalah wortel, bihun, beserta sayuran lainnya. Masih panas dan sangat cocok saat dicocol dengan saus tomat pedas.

Begitu digigit, isinya agak mengagetkan: udang dan mayones. Enak, tetapi tetap agak aneh karena saya dan rombongan Disway Internship Programme belum pernah merasakan tahu isi seperti itu. ”Enak?” tanya Ana yang sudah bisa berbahasa Indonesia.

Tentu rasanya sangat enak. Saya habis tiga. Kapan-kapan jika mampir ke Kayyana, rasanya harus pesan tahu isi itu lagi.

Kayyana memang sengaja dipilih untuk pengambilan film Bob Schellens. Sangat Indo-Belanda. Mereka juga bisa merasakan masakan Belanda yang cocok untuk perut mereka. 

Tim baru potong rambut. Sumi menunjukkan foto kekasihnyi dari smartphone . Ia berambut gondrong dengan tubuh atletis. ” He is a kick boxer (Ia atlet kick boxer , Red),” kata Sumi, lalu tersenyum.


Tim van Wijk berlatih kick boxing saat rambutnya masih gondrong.-Dok Tim van Wijk-

Ia lahir di Semarang pada 1975. Seumur dengan Olvi Jasinta yang ditulis di seri sebelumnya.

Ia diadopsi lewat sebuah panti asuhan saat berusia 6 bulan. 

Mijn Roots membantunya mencari sang ibu: Ellya Rosani. Pencarian membuahkan hasil setelah satu setengah tahun di Desa Susukan, Semarang.

Ada tim pencari yang terjun dengan modal dokumen lahir Tim. Mereka berhasil menemukan Ellya yang sudah sepuh. 

Ketika menceritakan orang tuanyi, tak terasa air mata Tim mengalir. Ia beberapa kali mengatur napas karena tak kuat melanjutkan ceritanya. (*)

 

Tak Sempat Bertemu Ibu karena Pandemi. BACA BESOK!




Kategori :