DITEMUI di kantornya Rabu (14/9) lalu, sambil makan siang, Hadi Surya alias Wang Jingqi 王景祺 banyak membahas perlunya manusia untuk "感恩怀德" (gǎn ēn huái dé): tahu berterima kasih terhadap budi baik orang lain. Tidak boleh kacang lupa kulit.
Menukil kata-kata mutiara dalam antologi klasik Zeng Guang Xian Wen (增广贤文), presiden komisaris PT Berlian Laju Tanker Tbk itu menegaskan, "滴水之恩,当涌泉相报" (dī shuǐ zhī ēn, dāng yǒng quán xiāng bào): kebaikan setetes, mesti dibalas dengan kebaikan berlimpah. Atau, mengutip petikan doa yang diajarkan Islam ketika mendapat bantuan orang, mesti dibalas dengan "ahsanal jazaak" (sebaik-baiknya balasan). Bukan malah air susu dibalas air tuba.
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Owner Platinum Ceramics Sutatno Sudarga: Ju An Si Wei
Sebab, Nabi Muhammad pernah bersabda, "Laa yasykurullah man laa yasykurunnaas". Yang terjemahan bebasnya kira-kira: seseorang belum bisa dikatakan telah bersyukur kepada Tuhan kalau belum berterima kasih kepada manusia.
Tentu, akan jauh lebih bagus lagi kalau, seperti yang dianjurkan Sang Buddha, bisa "kataññukatavedi": tahu berterima kasih dan bertekad membalas. Kendati, sebagaimana diakui Sang Buddha sendiri dalam Aṅguttara Nikāya 2:119, ada dua yang sulit ditemukan di dunia (dullabha sutta). Pertama, orang yang melakukan kebaikan dengan tulus (pubbakārī). Kedua, orang yang tahu berterima kasih saat mendapat bantuan dan merasa berkewajiban untuk membalasnya (kataññūkatavedī).
Maka tak heran bila Paulus mengingatkan Timotius agar tidak berlaku sebaliknya. "[H]endaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu." (2 Timotius 3:14)
Pendek kata, mengutip Bung Karno, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya." Dan, yang layak disebut pahlawan bukan saja yang telah gugur dalam perang, melainkan yang turut membersamai kita mengarungi lika-liku kehidupan. (*)