Gogi Nebulana dan Emas Pertama di Kejuaraan Dunia Wushu: Penantian Panjang 15 Tahun (1)

Senin 26-09-2022,11:26 WIB
Reporter : Alva Reza
Editor : Salman Muhiddin

Tak mudah membesarkan wushu di Indonesia. Perjalanan panjang selama 30 tahun itu diawali dengan menerobos sentimen terhadap tradisi Tionghoa di era Orde Baru. Prestasi di tingkat dunia sangat dinantikan untuk pembuktian. Emas pertama datang setelah 15 tahun penantian.

Tengoklah peserta Kejurnas Wushu Piala Presiden 2022 di Graha Unesa Surabaya yang ditutup, Kamis, 22 September 2022 lalu. Atlet keturunan Tionghoa tak lagi jadi mayoritas. Wushu semakin populer dan diterima di Nusantara.

Indonesia juga punya sederet atlet wushu dengan prestasi yang cemerlang di panggung dunia. Kekuatannya juga tak hanya bertumpuk di Jawa.

Juara dunia wushu pertama Indonesia terlahir di Tembagapura. Di tanah Papua. 

Ialah Gogi Nebulana. Ia mencetak emas pertama untuk Indonesia di World Wushu Championship 2007 di Beijing, Tiongkok. Itulah emas pertama begitu dinanti.

Olahraga bela diri Wushu di Indonesia baru mulai diperhitungkan di mata dunia setelah belasan tahun Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) didirikan. PBWI resmi berdiri di tahun 1992, tepat ketika perayaan hari pahlawan 10 November di tahun itu. 

I Gusti Kompyang (IGK) Manila sebagai ketua umum pertama harus pontang-panting membesarkan wushu. PBWI disiapkan untuk SEA Games 1993 di Singapura. 


I.G.K Manila, Bapak Wushu Indonesia di acara TM Kejurnas Wushu Piala Presiden 2022 di Surabaya, Sabtu 17 September 2022-Miftakhul Rozaq-

Wushu disiapkan untuk dua kepentingan besar. Pertama untuk memperbaiki hubungan Indonesia-Tiongkok yang sempat meregang akibat peristiwa berdarah 1965. Sejak saat itu sentimen terhadap warga Tionghoa begitu kental.

Kedua, Indonesia mulai ketar-ketir karena di Sea Games 1991 di Manila, Filipina, perolehan medalinya nyaris disalip tuan rumah. 

Meski jadi juara umum, perolehan medali emas Indonesia hanya selisih 1 medali dengan Filipina. 92 banding 91. 

Setelah dievaluasi, Filipina ternyata sangat kuat di cabang wushu. Tuan rumah meraih 10 dari 20 emas yang diperebutkan.

Sayang di Sea Games 1993 di Singapura, tak ada medali yang disumbangkan atlet wushu. Manila sudah jungkir balik untuk persiapan dan tour di 27 provinsi. Namun waktu persiapan yang singkat itu tak cukup. 

Prestasi baru datang dua tahun kemudian di Kejuaraan Dunia 1995 di Baltimore, Amerika Serikat (AS). Atlet Wushu Jainab memetik medali perak di kategori taolu nomor taijiquan putri. 

Prestasi ini baru bisa dilewati oleh Gogi Nebulana di Kejuaraan Dunia Wushu 2007 di Beijing. Gogi meraih emas untuk kategori taolu nomor jianshu putra. 


Juara Dunia Wushu Gogi Nebulana menunjukkan kemampuannya.-Alva Reza/Harian Disway-

Ia hadir di Kejurnas Wushu Piala Presiden 2022 yang baru ditutup 22 September lalu. Di sana, ia terlihat mengawasi para atlet yang tengah bertanding di lantai 4 Graha Unesa. “Saya di sini menemani anak saya. Juga sebagai pelatih dan official ,” kata Gogi. 

Kedua anaknya berhasil membawa pulang medali di turnamen tersebut. Anaknya yang kedua, Gojun, meraih medali emas Jatim Open Wushu Championship. Sedangkan yang sulung, Govin, mendapat perunggu di Kejurnas. 

Gogi adalah sosok yang sangat ramah. Ia menceritakan awal karirnya sebagai  di wushu, juara dunia hingga mencetak juara dunia lain seperti Edgar Xavier Marvelo.

 “Saya lahir di keluarga yang memang suka wushu,” kata Gogi. Masa kecilnya dihabiskan di Papua. Lantaran sang ayah bekerja sebagai seorang penerjemah di perusahaan tambang Freeport. 

“Waktu kecil saya lahirnya sungsang. Kaki keluar duluan. Di Papua saat itu dokter belum terlalu banyak. Ditambah masih di tengah hutan. Karena sungsang, kaki saya patah. Dari perusahaan Papa, saya dibawa ke Australia, karena memang lebih dekat,” kenangnya.

Menurut Gogi, kondisinya ketika lahir itu membuat kakinya menjadi lemah. Sang ayah Swastika Ananta Christyana (Kho Ping An) khawatir kondisi kaki yang lemah itu akan dibawa sang anak hingga dewasa. “Dari situ saya jadi kebiasaan berlatih wushu bersama papa. Papa sendiri melatih saya awalnya agar kaki saya bisa kuat,” jelasnya.

Di tahun 1993, dari Papua dirinya bersama keluarga boyong ke Jawa. Mereka pindah tempat tinggal dan menetap di Bogor, Jawa Barat.

Di sana pula Gogi remaja mulai mengikuti turnamen kejuaraan wushu pertamanya di usia 14 tahun. Hal itu pun diakuinya tak lepas dari dorongan sang ayah yang menyuruhnya untuk turut dalam kompetisi. 

“Waktu itu ada pertandingan di Jawa. Papa saya lihat, dan katanya bagus bisa memacu anak supaya lebih punya jiwa kompetisi,” papar pria asal Bogor itu.

Ia pertama kali mengikuti kejuaraan tingkat provinsi pada tahun 1994, di Jakarta. Namun, pria bertubuh ramping itu baru meraih emas di Kejurnas Jakarta untuk nomor taolu pada tahun 1999. 

Medali emas itu menjadi titik awal bagi deretan panjang prestasinya di kemudian hari. Prestasi Gogi melambung hingga kejuaraan dunia wushu kesembilan di Beijing, Tiongkok. (Alva Reza)

Jalan Lain Menuju Beijing, BACA BESOK!





Kategori :