Harus diakui bahwa Mayoritas Penduduk Indonesia adalah muslim yang anti-Amerika dan barat. Invasi ke timur tengah, hingga dukungan Amerika terhadap Israel membuat kebencian bertumpuk.
Rusia menjadi kekuatan besar yang berseberangan dengan Amerika dan Barat dengan NATO-nya. Maka lebih mudah mencintai Rusia ketimbang Amerika dan sekutunya. Termasuk mendukung Ukraina yang sedang ditindas.
BACA JUGA:Bud Wichers, Kontributor Harian Disway, Mengantre Bensin Hingga 8 Kilometer di Ukraina
BACA JUGA:Bud Wichers Dapatkan Foto Eksklusif Markas Pilot Drone Ukraina
Tengoklah pernyataan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva di Ponpes Nurul Iman, Cibaduyut, Kota Bandung, Selasa, 24 Januari 2023.
“Saat ini penduduk rusia 150 juta jiwa, 30 juta beragama Islam. Tradisi Rusia dan Indonesia sama, yaitu semua agama dan bangsa bisa hidup bersama. Tampi kami lebih dekat ke Islam,” kata Lyudmila yang duduk di samping Wakil Ketua DPR RI Abdul Muhaimin Iskandar dengan memakai jilbab.
Pernyataan Dubes Rusia Lyudmila Vorobieva.-@nahdliyyinbersatu-
Lyudmila disambut begitu meriah oleh santri. Bendera mini Indonesia dan Rusia dikibarkan untuk menyambutnya.
Betapa sayangnya masyarakat Indonesia terhadap perwakilan Rusia itu. Apalagi setelah ucapannya tentang Islam.
Bagaimana sikap Pemerintah Indonesia? Presiden Jokowi sudah datang langsung ke Ukraina. Budi turut meliputnya.
BACA JUGA:Kontributor Harian Disway: Pak Jokowi, Saya Tunggu Di Kiev
BACA JUGA:Politisi Sayap Kanan Belanda Robek, Injak dan Bakar Al Quran Usai Kasus Swedia
Presiden Jokowi bertemu Presiden Zelenskyy di Kiev Ukraina. -Bud Wichers/Harian Disway-
Jokowi juga telah bertemu Putin. Intinya, Indonesia mengharapkan perdamaian antar kedua negara itu. Namun, rasanya sulit menghentikan invasi Rusia. Kedua negara yang bertikai sama-sama memiliki alasan kuat dalam peperangan itu.
Rusia merasa Ukraina masih hak mereka. Sepertiga kekuatan nuklir Soviet ada di Ukraina. Sementara Ukraina mempertahankan kehidupan demokrasinya.
Selain mengungkap kedekatan Rusia dengan dunia Islam, Lyudmila juga mengecam insiden pembakaran Al Quran yang terjadi di Swedia 21 Januari 2023. Pelakunya Rasmus Paludan, ekstrimis sayap kanan Swedia-Denmark.