Setelah makan dan mikir, Heru mengubah rencana. Tidak melanjutkan rencana mutilasi ratusan keping. Ia pilih kabur. Menuju tempat tinggalnya. Mes, milik perusahaan jasa sewa tenda pernikahan, tempat ia bekerja. Di Ngemplak, Sleman. Ia kabur membawa motor milik Ayu dan sebuah HP milik Ayu plus uang Rp 300 ribu.
Di mes Ngemplak, ia menulis surat. Isinya penyesalan, dulu waktu kecil tidak menurut nasihat ortu. Intinya: kalau jadi orang miskin, jangan banyak gaya. Heru menyebut: Banyak gengsi. Akibatnya, ia kini tertekan berat.
Dilanjut, Heru berharap agar satu adiknya yang bernama Wiwit mau menuruti nasihat ortu. Supaya kelak dewasa tidak kejeblos (tertekan berat) seperti Heru.
Akhir surat, ia mengucap selamat tinggal kepada semua orang. ”Mungkin dalam 24 jam ini saya akan masuk penjara. Atau berakhir selama-lamanya.” Selesai.
Di situ Heru menyadari posisi. Juga, berpikir bunuh diri. Ada sisi baik, ia berharap agar Wiwit menuruti nasihat ortu. Supaya kelak dewasa tidak tertekan berat sepertinya. Tertekan berat yang bagaimana?
Nuredy: ”Tersangka terlilit utang di tiga pinjol (pinjaman online). Total utang Rp 8 juta.”
Nilai utang itu, buat Heru yang sehari-hari bekerja memanjat, naik turun tiang besi-besi memasang tenda terpal, cukup besar. Apalagi, tempo bayar utang mepet.
Di sini sekalian terungkap motif pembunuhan Ayu. Yakni, Heru berniat meramps harta Ayu. HP milik Ayu sudah dijual laku Rp 600.000, tapi motor Ayu belum sempat dijual.
Heru-Ayu kenal via Facebook awal November 2022. Dilanjut temu darat. Dilanjut pacaran. Ia mengaku ke polisi sudah beberapa kali berhubungan badan dengan Ayu, janda cerai, anak dua (sulung umur 8 tahun, bungsu umur 1 tahun).
Berarti, Heru tidak berani minta uang atau utang Rp 8 juta ke Ayu. Jika dikaitkan ke suratnya, Heru mengakui banyak gengsi. Ditafsirkan, ia ingin selalu tampak keren walaupun sejatinya miskin.
Seumpama Heru minta uang ke Ayu, cerita bisa lain. Bisa diberi, bisa tidak.
Entah, Heru tahu atau tidak, Ayu akan segera menikah lagi dengan pria asal Semarang. Menurut ayah Ayu kepada pers, pria Semarang itu serius ke Ayu. Hendak melamar Ayu, seusai Lebaran, sebulan lagi. Rencananya, habis lamar langsung nikah.
Dalam perspektif keluarga Ayu, ini tragedi, bukan hanya fisik, tapi juga moral. Ayah Ayu berkata kepada pers begitu sebelum Heru ditangkap polisi (Selasa, 21 Maret 2023). Dan, sebelum Heru ditangkap, tentu pihak keluarga menduga-duga beberapa orang kemungkinan pelaku pembunuhan. Termasuk, menduga mantan suami Ayu.
Semua sudah terjadi. Biarkan jadi masa lalu. Kisah nyata ini cuma berguna sebagai pelajaran hidup, buat yang belum melakukan: Banyak gengsi, kurang uang. Juga, aneka hikmah lain di dalamnya.
Kini Heru dijerat Pasal 340 KUHP, pembunuhan berencana. Kata Nuredy: ”Ya. Ini kejam. Ancaman maksimal hukuman mati.”
Perkara ini menarik perhatian ratusan juta warga Indonesia. Maka, ancaman hukuman maksimal itu realistis. Pantas saja, Heru berharap, sebagai doa, agar Wiwit tidak salah jalan, kelak. (*)