Perbedaan SBY dan Jokowi

Kamis 04-05-2023,04:30 WIB
Reporter : Taufik Lamade

DI penghujung kekuasaannya setelah dua periode menjabat, Jokowi dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mempunyai gaya berbeda dalam menyiapkan ”putra mahkota”. 

Kekuasaannya dibatasi konstitusi. Hanya boleh dua periode. Situasi  Jokowi saat ini sama dengan yang dialami SBY pada 2013 (menjelang Pilpres 2014). Mulai kasak-kusuk untuk menyiapkan siapa presiden berikutnya.

BACA JUGA: BACA JUGA:Idealnya Tiga Capres-Cawapres

 

Isyarat Dukungan

SBY juga menyiapkan calon. Sejumlah tokoh saat itu (2013) diberi angin surga.  SBY pun memberikan isyarat dukungan kepada tokoh seperti Dahlan Iskan (saat itu menteri BUMN), Marzuki Alie (ketua DPR), Jenderal Pramono Edi Wibowo (KSAD/adik ipar).

Hanya, SBY memilih cara ”membisik”. Yakni, dukungan tidak diucapkan di forum terbuka. 

Itu beda dengan Jokowi yang berkali-kali memberikan isyarat di acara publik. Secara terbuka mendukung calon yang dijagokan.

Kadang-kadang Jokowi memberikan clue atau kode. Suatu waktu menyebut calonnya berambut putih, yang kemudian diterjemahkan publik sebagai dukungan untuk Ganjar Pranowo (sebelum PDIP menetapkan Ganjar). Di lain waktu menyebut nama Prabowo Subianto.

BACA JUGA: BACA JUGA:Gagal Capres, Pintu untuk Puan

 

Menjaring Calon

Metode menjaring calon juga berbeda. SBY melakukan survei yang respondennya para pakar dan ahli. Dari wawancara dengan para pakar itu, muncul sejumlah nama yang dianggap kompeten sebagai presiden berikutnya. Nama teratas ditempati Dahlan Iskan dan Mahfud MD.

Jokowi juga menjaring nama penggantinya. Dengan cara survei di kalangan para relawan. Setiap pertemuan relawan (musyawarah rakyat), diadakan survei. Muncul nama seperti Ganjar, Prabowo, dan Sandiaga Uno yang menempati papan atas. Pernah Ganjar paling atas, pernah juga Sandi.

 

Kategori :