Makna dan Sejarah Bendera Pelangi LGBTQ+ yang Berkibar Sepanjang Juni

Rabu 28-06-2023,12:51 WIB
Reporter : Salman Muhiddin
Editor : Salman Muhiddin

HARIAN DISWAY - Bendera pelangi pertama kali digunakan sebagai simbol LGBTQ+ pada tahun 1978. Desain bendera ini dibuat oleh Gilbert Baker, seorang aktivis hak-hak LGBTQ+ dan seniman dari Amerika Serikat. Bendera pelangi pertama kali diperkenalkan di Parade Kebebasan Gay di San Francisco pada 25 Juni 1978.

Bulan Juni juga disebut sebagai Pride Month. Aktivis LGBTQ+ mengibarkan bendera pelangi diberbagai negara. Tak jarang aksi mereka menuai kontroversi dan bentrokan. Lantas bagaimana sejarah bendera pelangi itu?

Baker menciptakan bendera pelangi dengan tujuan untuk memberikan simbol yang positif dan mudah dikenali bagi komunitas LGBTQ+. Bendera ini terinspirasi oleh berbagai elemen kebudayaan, seperti gerakan hak-hak sipil, gerakan perdamaian, serta keindahan dan keberagaman warna-warni alam.

Aslinya, bendera pelangi terdiri dari delapan warna, masing-masing mewakili konsep yang berbeda, yaitu merah (kehidupan), jingga (kesehatan), kuning (cahaya matahari), hijau (keberuntungan), biru (seni), indigo (harmoni), dan ungu (roh manusia). Namun, pada beberapa versi bendera pelangi yang digunakan sekarang, ada enam warna yang digunakan yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu.

Sejak diperkenalkan pada tahun 1978, bendera pelangi telah menjadi simbol yang kuat dan dikenal luas di seluruh dunia sebagai representasi keberagaman, kesetaraan, dan kebanggaan LGBTQ+.

BACA JUGA:Coldplay dan LGBT

BACA JUGA:FBI Beri Peringatan Sepekan Sebelum Penembakan Klub LGBTQ Colorado

Mengenakan bendera pelangi atau menunjukkan dukungan terhadap LGBTQ+ dengan menggunakan simbol-simbol seperti bendera pelangi dapat memiliki beberapa tujuan. Beberapa tujuan tersebut antara lain:

Representasi dan pengenalan: Mengenakan atau menampilkan bendera pelangi adalah cara bagi individu untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota atau pendukung komunitas LGBTQ+. Hal ini dapat membantu menciptakan ruang yang aman dan inklusif bagi orang-orang LGBTQ+ untuk memperlihatkan identitas mereka secara terbuka.


Pemain Ligue 1 Prancis memakai nomor punggung berwarna pelangi untuk mendukung LGBTQ.-GettyImages-

Solidaritas dan dukungan: Menggunakan bendera pelangi juga bisa menjadi tanda dukungan dan solidaritas dengan komunitas LGBTQ+. Ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa Anda mendukung hak asasi manusia, kesetaraan, dan kebebasan individu untuk mengekspresikan identitas dan orientasi seksual mereka tanpa diskriminasi.

Pendidikan dan kesadaran: Menggunakan bendera pelangi dapat membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang isu-isu yang dihadapi oleh individu LGBTQ+. Ini bisa memicu percakapan penting tentang keberagaman, inklusi, dan hak asasi manusia.

BACA JUGA:Antara Podcast LGBT Deddy Corbuzier dan Google Ads

BACA JUGA:Menpora Prancis Wajibkan Pemain Ligue 1 Pakai Atribut Pelangi, Yang Menolak Tak Boleh Main

Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua orang merasa nyaman atau aman dalam mengenakan bendera pelangi atau menunjukkan dukungan secara terbuka. Hal ini dapat bergantung pada konteks budaya, lingkungan sekitar, atau masalah keamanan yang mungkin timbul. Keputusan untuk mengenakan bendera pelangi adalah keputusan pribadi yang harus diambil dengan pertimbangan matang terhadap situasi dan risiko yang mungkin timbul. (*)

Kategori :