FGD dan Rapat Pimpinan Universitas Airlangga (1): Membangun Kualitas, Wujudkan Universitas Kewirausahaan

Rabu 02-08-2023,04:00 WIB
Oleh: Mirni Lamid-Bagong Suyanto

MENJELANG akhir Juli, Universitas Airlangga mengadakan rapat pimpinan dan FGD yang dihadiri rektor, ketua senat, wakil rektor, dekan dan wakil dekan, para direktur, serta kepala badan di lingkungan Universitas Airlangga. 

Tema rapat kali ini adalah Kapitalisasi Kepakaran Akademik dan Pengakuan Global, Peran Fakultas dan Manajemen Menuju Entrepreneurial University. Rapat pimpinan diselenggarakan di Hotel Pullman, Lombok, tanggal 31 Juli hingga 2 Agustus 2023. 

Tamu kehormatan dan narasumber yang diundang di acara pembukaan rapat adalah Prof Panut Mulyono, rektor UGM tahun 2017–2022. Acara secara resmi dibuka Rektor Universitas Airlangga Prof Muhammad Nasih. Dalam sambutannya, rektor Unair menyinggung arti penting perguruan tinggi mempersiapkan diri terlibat dalam iklim persaingan yang sehat di tingkat global. 

Saat ini dan ke depan, tidak bisa dihindari semua lembaga pendidikan tinggi diminta untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guna menghasilkan lulusan yang berkualitas, khususnya lulusan yang memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat. 

Dalam diskusi yang berlangsung di FGD (focus group discussion) antara pimpinan Universitas Airlangga dan Panut Mulyono, ada tiga pertanyaan kunci yang menjadi pemicu. Sudahkah universitas kita memiliki orientasi entrepreneurship? Seberapa jauh kualitas riset dosen-dosen kita untuk menghasilkan inovasi? Seberapa jauh keterlibatan/kontribusi universitas kita pada capaian inovasi daerah/nasional? 

 

Universitas Kewirausahaan

Di Indonesia, lima PTN yang masuk kategori lima besar menurut World University Rankings adalah: UGM yang menduduki peringkat ke-263, UI menduduki peringkat ke-237, ITB peringkat ke-281, Universitas Airlangga naik menduduki peringkat ke-345, dan yang kelima adalah IPB yang kini peringkat ke-489. 

Lima PTN yang berhasil masuk ke ranking lima besar di Indonesia dan ranking di bawah angka 500 di tingkat dunia tersebut tentu bukan diperoleh secara instan. Prestasi sebagai PTN yang berkualitas dan memiliki reputasi yang diakui di tingkat global tentu diraih lewat kerja keras secara bertahap untuk memastikan mutu pembelajaran yang dikembangkan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. 

PT yang menutup diri dan tidak mau mengembangkan inovasi niscaya akan ketinggalan. PT yang mampu survive dan bahkan berhasil meraih prestasi yang membanggakan umumnya adalah PT yang bersikap terbuka dan didukung ekosistem yang kondusif, baik dari pemerintah maupun dunia industri.

Panut Mulyono dalam presentasinya memaparkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pendidikan tinggi belakangan ini terus meningkat. Tidak mungkin PT stagnan dengan prestasinya tanpa mengembangkan inovasi yang mendongkrak kualitas pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dan pasar kerja. 

Kebijakan yang dikeluarkan pimpinan PT, relevansi kurikulum di setiap program studi, proses pembelajaran, dan lain sebagainya, semua harus disesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman.

Secara garis besar, upaya penjaminan mutu internal yang dilakukan setiap PT bisa dilihat dari capaian empat indikator pokok. Yakni, pertama, kepatuhan terhadap kebijakan akademik, standar akademik, peraturan akademik, dan manual mutu akademik. Kedua, kepastian bahwa lulusan memiliki kompetensi sesuai dengan yang ditetapkan di setiap program studi. 

Ketiga, kepastian bahwa setiap mahasiswa memiliki pengalaman belajar sesuai dengan spesifikasi program studi. Keempat, relevansi program pendidikan dan penelitian dengan tuntutan masyarakat dan stakeholder lainnya.

Di era masyarakat post-industrial seperti sekarang ini, PT tidak mungkin bertahan jika hanya berkiprah secara konvensional –apalagi hanya menjadi menara gading yang tidak membumi dan tidak pula bermanfaat bagi kepentingan sosial dan kepentingan ekonomi. Menurut Panut, ke depan tidak bisa dihindari lagi bahwa PT harus bergeser fungsi dan perannya sebagai universitas kewirausahaan. 

Kategori :