'Melacurkan Pengaruh' ketika Memimpin, Strategi Paslon Meraih Simpati Publik

Kamis 21-11-2024,22:02 WIB
Oleh: Yayan Sakti Suryandaru*

APA yang dilakukan Jokowi di Purwokerto, yakni turun gunung untuk berkampanye, patut disimak. Jokowi akan memberikan dukungan kepada paslon Ahmad Luthfi-Taj Yasin (koalisi KIM Plus). 

Ketika hal tersebut dilakukan saat ia pensiun dari jabatan presiden, itu sah-sah saja. Namun, hal tersebut ia lakukan sebagai mantan presiden, mantan pejabat publik, dan representasi milik semua rakyat dan golongan di RI. 

Ia lupa bahwa ia adalah mantan pejabat publik dan masih menggunakan dana dari negara (rumah dinas dan pengawalan 24 jam). 

BACA JUGA:Komitmen Paslon di Debat Pilgub Jatim 2024, Ingin Tingkatkan Kualitas Lingkungan Hidup

BACA JUGA:Analisis Elektabilitas Paslon Pilgub Jatim 2024 di Detik-Detik Akhir Kampanye

Menjadi pertanyaan ketika Jokowi melakukan hal ini. Apakah paslon itu tidak percaya diri sehingga menggandeng seorang mantan presiden. Ada kekuatan pengaruh Jokowi saat masih menjabat presiden RI dan sebagai mantan. ”Jokowi effect” itu dipercaya masih ampuh meskipun ia sudah tidak menjabat presiden. 

Kalau kita merunut pada sejarah, Jokowi merasa jengah ketika disebut sebagai petugas partai oleh Megawati Soekarnoputri. Artinya, ia merupakan orang partai yang menjabat presiden RI dan harus mendahulukan kepentingan partainya daripada orang kebanyakan. 

Jokowi khilaf ketika memberikan dukungan kepada paslon nomor 2 ketika pemilu presiden. Ia membenarkan sebutan yang diberikan Megawati. Padahal, ia merupakan orang nomor 1 sebagai penjelmaan wakil masyarakat RI. 

BACA JUGA:Aisyiyah Hadirkan Tiga Paslon Pilgub Jatim 2024 dalam Satu Panggung

BACA JUGA:Ditanya Gus Hans Soal Sinkronisasi Pusat-Daerah, Emil: Kami Satu-satunya Paslon yang Sejalan dengan Visi Prabowo-Gibran

Kalau orang itu menjabat pemimpin sebagai pejabat publik, ia dimiliki oleh semua orang. Tidak bisa lagi menganggap dirinya sebagai perwakilan kelompok atau golongan. 

Dengan kata lain, sudah dituduh salah, ia sakit hati, tetapi membenarkan tindakan itu. Memang ia sudah keluar dari PDIP. Namun, kalau ia merupakan pendukung koalisi KIM Plus berarti elek dietrek-etrek (sudah salah melakukan kesalahan lebih lanjut).

PERILAKU POLITIK GANJIL

Apa yang dilakukan Jokowi biasa dilakukan di negara-negara lain. Misalnya, di Italia, Silvio Berlusconi yang menjabat perdana menteri selama beberapa periode berbeda (1994–1995, 2001–2006, dan 2008–2011) secara terang-terangan mendukung Roberto Formigoni sebagai gubernur Lombardy, salah satu wilayah terkaya dan paling berpengaruh di Italia. 

BACA JUGA:5 Daerah Jatim Usung Paslon Tunggal, Pilkada Diulang Tahun Depan Bila Kotak Kosong Menang

Kategori :