Pembunuh Cenderung Bohong saat Diinterogasi

Kamis 27-02-2025,21:00 WIB
Reporter : Djono W. Oesman
Editor : Yusuf Ridho

Isyarat emosional terbagi dua kategori: Berbohong tentang perasaan dan perasaan tentang kebohongan.

Dalam kasus pertama, orang berbohong tentang apa yang mereka rasakan. Misalnya, penjahat yang takut selama wawancara mungkin tertawa atau menutupi wajah mereka untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. 

Dalam kasus kedua, tersangka berbohong sering kali menimbulkan perasaan bersalah, cemas, atau takut. Tapi, tidak terkait rasa bersalah atas tindakan pembunuhan, tetapi rasa bersalah karena sudah berbohong.

Ada tiga emosi terkait kebohongan: 1) takut, 2) bersalah, dan 3) senang.

Ketakutan adalah reaksi terhadap ancaman bahaya fisik atau psikologis yang disebabkan kebohongan berisiko tinggi. Respons tubuh adalah menghasilkan perubahan fisiologis, berupa ketegangan otot dan peningkatan suhu tubuh, pernapasan, dan detak jantung. 

Tingkat ketakutan bergantung pada keyakinan orang tersebut terhadap keterampilan berbohong mereka dan taruhannya. 

Rasa bersalah tersangka pada kebohongan yang ia bikin. Bukan pada tindakan pembunuhan yang sudah ia lakukan. Ia merasa bersalah sudah berbohong. Sebab, sebagian besar orang Amerika Serikat (AS) sejak kecil diajari jujur. Kebohongan adalah dosa besar.

Rasa senang, sebab tersangka berbohong merasakan kenikmatan menipu interogator. Ia senang. Orang yang kesenangan menipu menunjukkan sejumlah emosi: Penghinaan (terhadap interogator), kesenangan, atau kegembiraan. 

Tapi, itu bukan pedoman utama. Ada variasi lain. 

Misalnya, tersangka yang diwawancarai terkait pembunuhan pasangannya. Mungkin menunjukkan tanda-tanda ketakutan dan rasa bersalah saat ditanya keberadaannya saat kejahatan terjadi. 

Meski pelaku tidak bersalah (membunuh pasangan), ekspresi emosi yang kuat dapat terjadi karena orang tersebut sedang selingkuh saat pembunuhan terjadi. 

Ekspresi ketakutan akan ketahuan selingkuh dan merasa bersalah atas perselingkuhan. Tetapi, tidak terkait dengan pembunuhan.

Maka, penyidik harus memberikan pertanyaan terbuka, memperhatikan respons subjek dengan saksama, memantau pemicu emosional, dan membandingkan jawaban orang tersebut dengan fakta kasus.

Kedua, faktor kognitif. Berbohong membutuhkan kecerdasan dan ketelitian ekstra. Tersangka harus merancang konstruksi cerita yang logis dan teliti. Ia juga harus sangat hafal konstruksi cerita tersebut. Sebab, sewaktu-waktu penyidik akan bertanya ulang pada suatu topik dalam bentuk pertanyaan yang berbeda dengan pertanyaan sebelumnya.

Penjahat tidak akan merancang konstruksi cerita yang panjang. Sebab, ia harus konsisten mempertahankan konstruksi cerita yang ia rancang. Ia bisa lupa pada detail cerita jika ditanya ulang penyidik.

Penjahat menyukai menumpangi kebenaran dengan kebohongan. Artinya, struktur ceritanya kebenaran. Tapi, ditumpangi kebohongan. Misalnya, konstruksi ceritanya adalah kebenaran. Tapi, keterangan waktunya bohong. 

Kategori :

Terkait

Senin 03-02-2025,23:48 WIB

Dibunuh, lalu Dicor

Kamis 26-12-2024,22:15 WIB

Identifikasi Mayat Dibunuh

Selasa 24-12-2024,23:15 WIB

Pembunuh Ngumpet di Keramaian