Pertamax Oplosan: Apakah Janji Premium Hanya Tipuan?

Sabtu 08-03-2025,07:27 WIB
Reporter : Hadi Asrori *)
Editor : Heti Palestina Yunani

Banyak yang menyatakan bahwa perbedaan performa mesin dan penurunan efisiensi pembakaran adalah bukti nyata bahwa bahan bakar yang diterima tidak sesuai dengan janji premium yang telah dicanangkan.

BACA JUGA: Jaksa Agung Buka Kemungkinan Hukuman Mati dalam Kasus Korupsi Pertamina

1. Data Penjualan dari Kementerian ESDM

Dalam laporan kuartal terbaru, Kementerian ESDM mencatat penurunan volume penjualan di SPBU Pertamina sebesar 18 persen. Di sisi lain, SPBU swasta melaporkan peningkatan penjualan hingga 25 persen. 

Data ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen dari bahan bakar resmi BUMN ke produk-produk yang ditawarkan oleh operator swasta, yang dianggap lebih transparan dalam hal kualitas dan harga.

2. Laporan dari Asosiasi Pom Bensin Swasta

Laporan Asosiasi Pom Bensin Swasta mencatat peningkatan pelanggan hingga 30 persen di SPBU swasta dalam satu tahun terakhir. Konsumen merasa lebih yakin dengan jaminan mutu dan adanya sistem pengawasan kualitas yang ketat pada pom bensin swasta.

BACA JUGA: Penjualan Pertamax Anjlok, Dirut Pertamina Datangi Kejagung

Suara dari Dunia Akademis dan Industri


Fenomena ini menggambarkan bagaimana struktur birokrasi dan persaingan bisnis yang tidak sehat dapat mengikis nilai-nilai kejujuran dalam pelayanan publik.-Darren Whiteside-REUTERS

Dr. Haris Wibowo, seorang ahli teknik mesin dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menyatakan bahwa erbedaan spesifikasi antara Pertamax dan Pertalite bukan sekadar perbedaan angka oktan.

"Tetapi mencerminkan dampak nyata terhadap performa mesin. Jika terjadi pencampuran atau pengoplosan, maka kualitas pembakaran dan efisiensi penggunaan bahan bakar akan menurun drastis," katanya. 

Pernyataan ini menegaskan bahwa praktik pengoplosan tidak hanya merugikan konsumen secara finansial, tetapi juga berpotensi menyebabkan kerusakan pada mesin kendaraan yang mengandalkan bahan bakar berkualitas tinggi.

BACA JUGA: Kejagung Panggil Empat Pejabat Pertamina Atas Kasus Korupsi Minyak Mentah

Dukungan datang dari Prof. Siti Aminah, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, yang menambahkan bahwa isu pengoplosan ini mencerminkan lemahnya sistem pengawasan internal dan tekanan kompetitif yang besar di industri minyak dan gas.

"Praktik semacam ini bukan hanya masalah teknis, tetapi telah meresap ke dalam budaya perusahaan yang mengutamakan keuntungan di atas kepercayaan konsumen," ujarnya. 

Menurutnya, fenomena ini menggambarkan bagaimana struktur birokrasi dan persaingan bisnis yang tidak sehat dapat mengikis nilai-nilai kejujuran dalam pelayanan publik.

Kategori :